Rabu, 24 Juni 2026

Review buku: Setengah manusia setengah kunti?!

 Kalian pasti sering banget kan dengar cerita mistis dan horor mau itu dari internet atau cerita langsung dari orang yang mengalami nya. Pasti itu nyeremin banget gak sih? ᯣ_ᯣ

Nah gimana jadi nya jika cerita mistis dan horor yang biasanya membuat bulu kuduk berdiri malah membuat kalian ngakak sampai sakit perut? Nah gimana kalau kalian gak sengaja lihat seorang cewek nyantet cowok populer di sekolah nya sampai kepala nya copot? (⊙▿⊙)ˀ̣ˀ̣ "loh kan itu serem banget bukan lucu" itu kalau kalian lihat nya nyata, beda dengan cerita yang satu ini! (☞ ͡ ͡° ͜ ʖ ͡ ͡°)☞

Nah dari pada penasaran yuk langsung bedah aja buku yang satu ini! ꉂꉂ(ᵔᗜᵔ◍)

Selasa, 23 Juni 2026

Cerpen: Bayangan Waktu - karya lolos event BeraniNulis.Id batch 31

 Bayangan Waktu

Terkadang manusia melupakan apa pun hanya untuk mengejar dunia, tanpa mereka sadari ada seseorang yang menunggu nya untuk kembali, namun waktu berlalu begitu cepat melahap segala nya.

Seperti hari lainnya Raina sibuk dengan pekerjaannya, ia hampir tidak ada waktu untuk beristirahat. Raina seorang wanita karier 30 tahun, yang merantau dari kota lain, ia tinggal di sebuah apartemen sederhana dekat dengan kantor nya. Sudah tujuh tahun sejak Raina meninggalkan rumah lama yang ia tempati bersama orang tua nya. Raina menatap pemandangan kota dari balkon kamar, langit malam membentang sejauh mata memandang, kota yang padat, bintang-bintang seakan enggan untuk menampakkan diri.

“Aku kangen ayah dan ibu..”

Senin, 22 Juni 2026

Askara

 

Askara

Suatu hari aku pernah mengalami hal yang bisa di bilang menegangkan dan pengalaman baru, ini adalah kejadian yang tidak akan aku lupakan. Nama ku Agrata aku berumur 18 tahun, dan sekarang aku akan menceritakan kisah ku 2 tahun lalu, tepatnya saat aku berumur 16 tahun.

Semuanya berawal dari saat aku, Hara, dan Arsa sedang mengobrol lewat telepon, aku, Hara dan Arsa sudah dekat sejak kami smp, dan mereka adalah teman baik ku. 

Saat itu adalah liburan sekolah, semua anak-anak akan berlibur bersama keluarga ataupun teman mereka, begitu juga kami, namun 2 minggu sebelum sekolah di mulai Arsa memberi tahu aku dan Hara jika ada perpustakaan lama yang masih berdiri di kota Gloom Heaven.

"Wow itu bukankah kota lama?" Tanya Hara lewat telepon. "Yaa itu memang kota lama tapi bangunan itu terlihat masih bersih dan tidak ada tanda-tanda akan roboh" kata Arsa "kalian harus kesini, besok aku akan jemput kalian!, gimana Ra?" Lanjut Arsa

 "Terakhir kali kamu memilih tempat kita nyaris tersesat Arsa" kata ku, "ayolah Ra, aku janji kali ini tidak akan tersesat", "ayo Ra kita ikut, aku juga bosan nih.. setelah pulang dari pantai aku hanya di rumah saja" lanjut Hara, aku menghela nafas pasrah "oke baiklah".

"Yess!" Arsa semangat "di rumah Agrata oke?" Aku dan Hara hanya mengiyakan pertanyaan Arsa.


Keesokan harinya Arsa datang bersama ayahnya untuk mengantar kami bertiga ke kota lama itu, selama di perjalanan kami sibuk membahas soal apa yang akan kami lakukan disana nanti, dan membayang bayangkan seperti apa isi perpustakaan itu.

 2 jam perjalanan akhirnya kami tiba di kota lama, dan kami berhenti di depan gedung perpustakaan itu, dan benar saja ini sangat besar dan terlihat mewah, seperti sangat terjaga, padahal kota ini sudah tidak banyak orang yang tinggal karena beberapa masalah.

 "Wow lihat lah buku-buku itu...astaga banyak sekali" Arsa yang pertama melangkah masuk kagum dengan banyak nya buku-buku memenuhi rak dari bawah hingga atas, aku dan Hara juga merasa kagum, "bau buku-buku lama" kata Hara pelan, aku hanya mengangguk, Arsa yang sudah kelayapan entah ke mana

 "Hei kemari!" Arsa yang kelepasan berteriak membuat orang di sekitarnya melihat ke arahnya, tapi tatapan mereka aneh, aku hanya langsung menghiraukannya dan pergi ke tempat Arsa, "ada apa?" Tanya Hara pelan, "lihat buku-buku ini, ini kelihatan sudah tua dan berdebu semua" Arsa akhirnya memelankan suaranya, kami melihat lihat buku-buku itu, dan ada 1 buku yang menarik perhatian ku, itu buku tebal memiliki sampul coklat dengan itu berjudul “The Kingdom Of Zayira” 

Aku membuka buku itu dan debu beterbangan membuat ku bersin, Arsa yang mendengar ku tertawa, aku melotot ke arahnya itu membuatnya semakin geli, Hara mencoba menyuruh Arsa diam karena kami bisa jadi pusat perhatian disini “shhh udah dong, nanti kita di usir karena ribut bagaimana?” tanya Hara berbisik, “ayolah itu tidak akan terjadi” sangkal Arsa.  

Aku mengabaikan Arsa dan melihat sekeliling dan selintas aku melihat seseorang yang memakai jubah hitam “apa itu barusan? “ pikir ku, aku memalingkan wajah ku dan kembali melihat buku tua itu, bahkan Hara dan Arsa yang tadinya berdebat ikut melihat ke arah ku “buku apa itu Ra?” tanya Arsa.

Aku hanya mengangkat bahu tidak tahu, mereka menghampiri ku dan kami melihat halaman per halaman buku itu, kertas nya sudah menguning dan bau nya khas buku tua yang seperti sudah tidak pernah di buka lagi.

Tibalah saat kami sampai di halaman 20 aku merasakan hawa aneh “kalian merasakan sesuatu tidak?” aku melihat ke arah Hara dan Arsa bergantian “aku iya nih seperti ada sesuatu yang akan menarik kita...” kata Hara sedikit khawatir. 

Arsa melihat sekeliling dan melihat sudah tidak ada orang di sana kosong  “ke mana semuanya..?” aku dan Hara juga ikutan melihat ke berbagai arah dan benar saja disana kosong  “um.... Guys...?” aku merasakan seliweran angin di wajah ku, dan dalam sekejap angin itu menjadi sangat kencang dan menerbangkan banyak buku, kami berusaha untuk menahan kan berat kami di sana agar tidak terbawa angin. 

“Berpegangan ke rak!” suara Arsa melawan suara angin, kami berpegangan di rak berharap angin cepat berlalu, namun bukannya berlalu angin semakin kencang pegangan ku hampir terlepas, “Kenapa angin ini tidak berhenti sih?! Ini angin apa!?” Hara melawan suara angin.

Tangan ku terlepas dan aku terlempar mengikuti arah angin, namun dengan cepat Arsa menangkap tangan ku dan menarik ku.

“Pegangan Ra!” teriak Arsa melawan angin

Aku menggenggam tangannya erat dan berusaha menyeimbangkan diri ku di lantai.

Tak lama angin semakin kencang dan akhirnya membuat pegangan kami bertiga terlepas, kami terlempar mengikuti arah angin.

Kami berteriak dan...

Aku terbangun di hamparan rumput hijau yang luas “di mana aku?”  pikir ku, aku langsung bangun dan melihat sekeliling “Hara!? Arsa!?” mereka tidak ada disana

Aku berdiri dan melihat sekitar ku, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku berada di hamparan rumput yang luas dan aku melihat desa disana, aku kaget saat melihat baju ku berubah menjadi baju abad pertengahan “a..apa?” aku mengerutkan dahi ku sangat bingung dengan semua ini.

Aku di mana!?

Di sisi lain, Hara terbangun di pinggir sungai sama hal nya dengan ku, ia terkejut dengan lokasi nya dan pakaiannya juga berubah.

Begitu juga dengan Arsa yang terbangun di desa dengan baju yang bisa di bilang juga baju abad pertengahan.

Kami terpisah jauh satu sama lain, aku mulai berjalan mengarahkan ke desa melewati hamparan rumput yang begitu luas dengan banyak nya bunga Aster yang indah.

Aku menelusuri hamparan itu dan setelah berjalan 10 menit aku tiba di desa nya , banyak sekali orang di sana ada yang berjualan, anak-anak bermain main, ada yang membawa dagangannya dengan gerobak kuda nya.

Aku memperhatikan sekeliling dan aku melihat kerajaan di sana, terlihat mewah dan megah.

Tanpa sadar aku berjalan ke toko roti, dan seorang wanita bertanya pada ku “kamu mau beli apa?” aku yang tidak sadar tersentak dan melihat ke arahnya “ah.... Tidak.. Aku tidak ada uang bu” wanita itu melihat ku mengkerut “kamu.. Bukan anak di desa ini bukan?” aku hanya menggeleng lalu melihat wanita itu, diam sejenak lalu wanita itu mengambilkan roti baguette “ini ambil dan makan lah, kamu pasti lapar nak” kata wanita itu sambil memberikan  roti yang sudah terbungkus itu kepada ku, “eh... Ini tidak perlu bu.. Aku tidak lapar kok” tolak ku, namun wanita itu memaksa ku untuk mengambil roti nya “ini pasti akan berguna buat mu jadi bawalah ini” wanita itu tersenyum hangat ke arah ku.

Aku hanya mengangguk dan mengambil nya “Terima kasih banyak” aku tersenyum, “tidak masalah, nama kamu siapa nak?”

“Agrata” aku tersenyum

Tak lama saat aku sedang mengobrol aku tidak sengaja melihat seseorang yang familiar.

“ah sebentar bu!” aku langsung berlari kearah nya “Arsa!”, anak laki laki itu menoleh ke arah ku dan dia tersenyum, benar saja dugaan ku itu Arsa.

“Ra!” dia berlari ke arah ku dan saat bertemu kami diam mengambil nafas.

“kamu dari mana saja?!” aku berteriak pada nya namun aku juga senang bertemu dengannya.

“Ya ampun Ra... Kupikir aku tidak akan bertemu dengan mu lagi, di mana Hara?” lalu aku terdiam raut ku berubah khawatir  “aku belum bertemu dengannya sejak kita di sini”

Arsa menghela nafas

Malam ini kami bermalam di rumah wanita toko roti itu, “sebelumnya perkenalkan nama ibu Heena ” wanita itu tersenyum ke arah kami.

Arsa memperkenalkan diri nya dan kami menceritakan kejadian yang kami alami termasuk kami kehilangan teman kami di sini.

Setelah bercerita panjang lebar aku dan Arsa beristirahat di rumah ibu Heena, ibu Heena sangat baik kepada kami beliau sudah memberi kami tempat untuk beristirahat dan juga makanan, aku sangat berhutang budi padanya.

Di pagi hari nya bu Heena sudah berangkat ke toko roti nya untuk membuat roti, aroma roti tercium saat aku dan Arsa memasuki toko itu. Ibu Heena tersenyum saat melihat kami masuk “Agrata... Arsa... Kemarilah” katanya.

Kami mendekati wanita itu lalu wanita itu memberikan kami dia roti baguette yang masih hangat  “makan ini saat kalian di perjalanan, ini tidak banyak tapi ku harap ini akan membantu kalian” wanita itu tersenyum, aku dan Arsa mengangguk “Terima kasih bu” kata ku, “kami pasti akan memakannya kok! Roti buatan ibu itu enak banget!” kata Arsa melanjutkan, Ibu Heena hanya terkekeh mendengar ucapan Arsa.

Tidak lama setelah itu kami memutuskan untuk berjalan jalan sambil mencari keberadaan Hara, “ku rasa ini akan sulit..” kata ku sambil melihat keramaian di desa ini.

“ayo ra!” Arsa menarik tangan ku di antara keramaian dan berlari keluar dari pusat desa, aku yang tidak sempat bereaksi hanya mengikuti arah Arsa, “kita akan kemana?”

“ke bagian balai desa!”

Sesampainya kami di sana, aku dan Arsa mengunjungi petinggi desa yang tadi malam di beri tahu kan oleh bu Heena.

Petinggi desa itu mengatakan jika di desa ini juga sering kedatangan penduduk asing, ia juga mengatakan ini sudah kesekian kalinya seseorang tersesat di bagian desa ini. “jika kalian ingin mencari nya carilah di sekitar hutan atau tempat tempat sepi yang jarang didatangi orang” kata petinggi itu.

Arsa yang mendengar itu semakin semangat untuk berjelajah “berapa jauh hutan itu?” tanya ku, “hutan itu agak jauh dari sini, namun kalian bisa memakai kuda ku untuk pergi  kesana” aku mengangguk setuju “Terima kasih”.

Setelah mengambil kuda dari kandang petinggi itu membantu kami menaiki kuda, Area berada di depan dan aku memegang pundak nya.

“kamu pernah menunggangi kuda nak?” kata petinggi itu sambil melihat kearah Arsa.

Arsa menggeleng “tenang saja! Ini pasti mudah” dia nyengir

Petinggi itu memberi tahu kami cara nya, “oke! Siap ra! Pegangan!”

“uh... Kamu yakin? Tanya ku tidak yakin dengan Arsa. “udah pegangan aja di pundak ku, pasti bisa kok” aku dengan ragu memegang pundak Arsa agar tidak terjatuh, dan begitu Arsa melecutkan tali nya kuda ini berlari sangat cepat, aku berteriak karena cepat nya.

“Ya ampun Ra telinga ku bisa berdarah nanti” kata Arsa main main.

Tidak selang lama sekitar 10 menit melaju kuda kami menabrak pohon karena Arsa tidak bisa mengendalikan kuda nya.

“Lihat! Sudah ku bilang kamu tidak bisa!” aku mengomel karena kejadian ini, Arsa terlempar dari kuda nya dan masuk ke lumpur, saat melihat wajah Arsa yang penuh lumpur aku mentertawakannya, Arsa hanya mendengus sebal sambil menyeka lumpur dari wajah nya.

Kuda kami bangun kembali seperti nya dia merasa pusing karena tabrakan, tidak berselang lama kuda itu berlari kencang meninggalkan kami di tengah hutan. Aku dan Arsa hanya terheran heran melihat kuda itu , Arsa menghela nafas “bagus.. Sekarang apa?”

“bukan aku yang punya ide ini” kata ku tidak mau disalahkan.

Namun tiba tiba terdengar suara dari semak semak, aku langsung menoleh ke arah suara itu begitu juga dengan Arsa, “Um... Arsa.. Kamu ingat kata petinggi? Di sini ada.. Hewan buas bukan?”

“Ra... Petinggi tidak pernah berkata begitu..”

“oh ya.. Kamu benar, harus kah aku cek?” tanya ku sambil melihat ke semak semak.

“Tidak.. Biar aku saja, aku akan melindungi mu Ra” Arsa sigap berjalan ke semak semak itu dan....

Hara muncul tiba tiba dari semak semak dan itu membuat Arsa kaget dan spontan ia melompat mundur, begitu juga Hara ia kaget melihat kami berdua.

“Hara?!” aku dan Arsa serentak. Aku dengan cepat memeluk Hara erat “kamu dari mana aja? Kenapa tidak ke desa?” tanya ku. “aku tidak tau dimana desa berada.. Dan kenapa kita bisa ada disini? Ini di mana? Kita di mana Ra..?” tanya Hara cemas.

“Oke guys bisa kah sesi drama ini selesai dulu? Kita masih butuh waktu panjang untuk kembali, tanpa kuda” sela Arsa.

Kemudian kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke desa, sesampainya di desa kami mengajak Hara untuk pergi ke rumah ibu Heena, namun saat kami ke sana wanita itu sudah tidak ada, dan yang membuat kami kaget adalah toko roti dan rumah nya sudah terbakar, aku dan Arsa mematung “ya ampun... Apa yang terjadi?” tanya Hara sambil menyaksikan rumah yang hampir setengah terbakar itu. 

Lalu seorang pria tua menghampiri kami “maaf, kalian yang bersama Heena kemarin?” kami serentak menoleh dan aku mengangguk , pria tua itu terlihat sedih mata nya seperti menyimpan kenangan buruk “sebelum nya saya minta maaf, Heena sudah tidak ada, ia tertimpa salah satu balik kayu dan meninggal di saat itu, kepala nya terbentur... 

Dan kami terlambat membantu nya...” seketika kami mematung tidak percaya apa yang kami dengar.

“itu tidak mungkin!” aku tidak terima hal itu terjadi, aku menangis, aku tahu ibu Heena hanya lah seseorang yang baru saja ku temui saat aku tiba di sini, namun ia sudah banyak membantu dengan memberikan makanan dan tempat tinggal, disana Hara mencoba menenangkan ku “sudahlah Ra...”

Kami pergi ke balai desa, kami menginap disana sementara, aku masih diam setelah mendengar berita kematian Heena namun Arsa dan Hara mencoba untuk menghibur ku “ayolah Ra, bu Heena pasti sedih lihat kamu jika sedih dengan kematiannya” kata Arsa. 

“Iya Ra.. Jangan berlarut dalam kesedihan lagi pula kita masih punya tujuan untuk pergi dari sini kan? Kembali ke rumah kita” Hara sudah tau semua nya, Arsa menceritakannya secara lengkap tentang siapa Heena sebenarnya. Malam itu kami tidur di balai desa, aku dan Hara tidur di ruang petinggi, sedangkan Arsa di luar sendirian.

Keesokan hari nya kami di bangun kan oleh petinggi itu dan ia berkata jika mereka memiliki kendala di sektor pertanian dan meminta bantuan para anak anak untuk ikut termasuk kami, “Hoam... Hara... Agra.. Kenapa kita harus ikut sih.. Merepotkan banget” kata Arsa yang baru saja bangun “shhh ikuti saja jangan banyak protes” kata Hara mewakili ku, Arsa hanya mendengus sebal karena disuruh bangun sepagi ini hanya karena sektor pertanian mereka rusak.

Sesampai nya kami di sana dan benar saja banyak tanaman yang rusak dan di hinggapi belakang dan hama lainnya, “padahal dulunya desa ini sangat indah dan kaya akan pertanian dan peternakan nya namun sejak kejadian di masa lalu yang menyebabkan desa ini semakin terbelakang, banyak nya petani yang meninggal karena sakit atau bahkan di sihir.. Kami kehilangan banyak sekali penduduk pada masa itu” jelas petinggi desa.

“sesuatu yang indah akan berakhir juga”

“memang ada kejadian apa yang terjadi di sini?” tanya Hara

“kejadian yang tidak akan pernah di lupakan oleh penduduk di desa Zayira ini, bahkan raja dan ratu saat itu pun sangat kewalahan” petinggi desa itu melihat ke arah sektor lalu melihat kami secara bergantian. “Kalian tidak berasal dari negeri ini bukan?” sorot mata petinggi itu berubah menjadi dingin.

“Lagi lagi dia melakukan nya... Ini bencana” suara nya menjadi cemas

“dia? Siapa?” tanya Arsa

“Seseorang yang membuat kalian masuk ke negeri ini, tapi sayang sekali aku tidak bisa memberikan semua informasi kepada kalian, maaf kan  aku anak-anak” petinggi itu menghela nafas pasrah dan terlihat wajah nya yang sendu.

Siang hari kami berjalan jalan di desa melihat suasana desa Zayira, desa ini bernama Zayira karena di pimpin oleh Kerajaan Zayira, terdapat istana yang megah berdiri di atas desa ini The Kingdom of Zayira.

“Hara... Agra..” aku dan Hara menoleh ke arah Arsa “ada apa?” tanya Hara

“putri kerajaan ini cantik banget!” mata Arda berbinar binar melihat putri raja dan sang ratu lewat dengan kereta kuda nya. Aku memukul lengan nya “jangan main main kita harus cari cara untuk keluar dari sini”

“aku hanya mengagumi? Kenapa? Kamu cemburu hm?” Arsa menggosok bagian lengannya yang aku pukul, “bicara sekali lagi aku dan Hara saja yang keluar dari ini” aku melihat Arsa tajam. “bilang saja cemburu, gapapa tinggalin aja aku, siapa tau aku bersama putri raja” Arsa tersenyum mengejek.

Aku menyeret Arsa paksa “ayo Hara kita lanjut jalan”

“Ra! Sakit! Lepasin aku!” Arsa berusaha melepaskan kerahasiaan baju nya dari ku, “diam lah...”

Setelah sekitar 30 menit berjalan aku melepas kerah Arsa dan Arsa terlihat sebal dan baju nya jadi kusut “kamu mau minum Ra?” tanya Hara. “kamu mau?” aku melihat ke arah Hara “aku mau Ra” Arsa dengan cepat menjawab “bukan kamu!”

“kalau kamu mau aku ikut kok Ra” aku mengangguk setuju

“dih pilih kasih” Arsa bergumam

“diam atau ku tinggalkan” aku berjalan memasuki kafe lalu disusul oleh Hara, penjaga kafe itu melihat tajam ke arah ku dan Hara “um... Ra.. Kamu yakin disini? Sepertinya penjaga itu tidak ramah..” bisik Hara. “kamu benar Ara... Tapi-“ belum sempat aku lanjutkan tiba tiba Arsa masuk dengan heboh “Wow! Bagus sekali!” aku dan Hara kaget mendengarnya tiba tiba “Arsa!” Hara berbisik, “paman! Apakah paman punya milkshake?”

“ya ampun” aku menepuk wajah ku melihat tingkah kekanak-kanakan Arsa, penjaga itu tersenyum saat melihat Arsa dan tidak berselang lama Hara juga ikut ikutan “Arsa aku juga mau milkshake!!”

“sini Ara..” Hara bergabung dengan Arsa memesan milkshake mereka “kenapa aku selalu terjebak bersama mereka sih..” aku mendesah lalu berjalan menuju meja

“Kamu gak mau Ra? Ini enak tau, lebih enak dari pada milkshake di dekat rumah Arsa!” Hara terkekeh “tidak terima-“ tiba tiba saja Arsa menarik ku ke kursi di sebelah nya dan dia memesankan satu milkshake lagi “udah kamu duduk aja di sini santai, yakan Har” Hara mengangguk sangat setuju, aku hanya menghela nafas pasrah “terserah saja lah.. Tapi kamu yang bayar”

“Tenang... Apa yang gak ada di tangan Arsa” kata Arsa sombong

Aku memutar mata ku, sedangkan Hara menikmati milkshake coklat nya.

Namun disaat kamu akan pergi meninggalkan kafe, tiba tiba saja penjaga kafe ini memanggil kami dan menyuruh kami tetap di sana hingga kafe tutup, sebagai gantinya ia akan membawakan kami makan siang dan malam secara gratis.

“Kalian jangan ke mana - mana sampai aku katakan pergi, mengerti?” nada pria itu tegas “aman paman, kalau ada makanannya sih aman” aku menyikut perut Arsa, membuat nya tersentak “apa sih Ra? Kan aku benar” Hara hanya terkekeh melihat kami “kalian lucu-“

Aku dan Arsa berbarengan menjawab tidak, dan itu membuat Hara semakin geli, di tengah situasi begini dia selalu mencairkan suasana.

Kami menunggu di kafe ini sekitar 4 jam dan saat kafe tutup, kami dipanggil oleh penjaga kafe itu, “kalian bukan berasal dari desa ini bukan?” suara nya berat dan tegas.

Kami saling melihat satu sama lain lalu kembali melihat paman itu, Hara menggeleng kan kepala nya “bukan paman... Kami dari kota”

“dari kota apa kalian berasal?” Hara menjawab pelan “kota Gloom heaven” pria itu terdiam sejenak sambil melihat sekelilingnya seperti memastikan sesuatu “kalian ikuti aku” pria itu berputar dan berjalan ke arah salah satu botol kaca yang sudah kosong lalu ia menarik nya, dan muncul lah ruang bawah rahasia dari balik lantai kayu “wow! Keren!” Arsa terpukau

Pria itu memberi arahan agar kami mengikuti nya ke bawah, kami bergerak maju mengikuti arah pria itu, “Ra kita mau dibawa kemana?” tanya Hara cemas

“tenang aja Har kita punya Arsa, dia kan mau melindungi kita” kata ku sambil tersenyum sarkas, sedangkan Arsa hanya mende-cih pelan.

Sesampainya kami di ruangan bawah, pria itu menawarkan kami duduk diatas kursi yang sudah di sediakan cukup untuk empat orang saja, ruangan itu tidak banyak perabotan hanya ada sofa udang, meja makan, dan kursi. “tadi kamu bilang, kalian bukan dari desa ini melainkan kota Gloom Heaven betul?” Hara mengangguk.

Pria itu menghela nafas “lagi-lagi wanita itu..” pria itu memijat dahi nya sendiri, kami hanya terdiam tidak tau apa apa, “wanita siapa?” aku bertanya.

“Maaf..,sebelum aku menjawab perkenalkan aku Chris, jika kalian bertanya siapa wanita itu maka aku akan menjawabnya namun jika kalian sudah tak lagi mendengar kabar ku maka aku tewas”

Pria itu membuat kami bergidik ngeri, apa katanya tewas?

Ini mimpi buruk.

“Di dalam hutan tinggal seorang wanita paruh baya, ia tinggal sendirian, ia kehilangan keluarga nya, aku tidak tahu pasti cerita kehidupannya namun sekarang ia mengincar orang-orang dari luar sana untuk ia jadikan mainan baru nya”

“aku tidak tahu bagaimana cara nya untuk mengambil jiwa dan raga manusia ke dalam dunia ini, sebelum itu akan ku beritahu kalian.. Tidak berada di dunia kalian, ini dunia yang berbeda mengerti? Sekarang satu-satu nya cara adalah kalian dengar kan perintah ku dan lakukan tanpa bantahan jika kalian ingin keluar dari dunia ini dan kembali ke dunia kalian.. Paham?”

Keesokan hari nya kami mengikuti arahan paman Chris, “pertama kalian cari kendaraan dalam bentuk apa pun, kalian harus bisa mengendalikannya sendiri, tidak ada cara lain” aku, Hara, dan Arsa memilih meminjam kuda petinggi desa lagi kali ini dengan gerobak di belakang nya setidaknya ini bisa untuk kami bertiga dengan Arsa pengemudi nya. 

“Hei.. Aku percaya kan kuda ini pada mu, jangan menabrak lagi “ kata ku pelan melihat Arsa diatas kuda nya “tenang aja Ra, percaya pada ku, kamu juga Ara” Arsa menunjukkan senyum percaya diri nya.

Aku mengingat kembali perkataan Chris “kedua kalian harus mempersiapkan banyak perbekalan dan juga peralatan yang mampu untuk di bawa bertarung, entah apa yang akan kalian temukan kalian harus selalu bersiap.”

Perbekalan dan peralatan juga sudah kami siap kan dengan bantuan petinggi, bahkan sebelum kami pergi kami mampir ke makam Heena. 

“Ketiga hadapilah rintangan di depan kalian dan jangan pernah takut mengambil keputusan kalian harus siap berkorban demi teman kalian sendiri, lalu carilah sebuah askara, sinar terpancar bagai cahaya lembut. Askara akan membawa kalian kembali, paham!?”

Kami bersiap untuk petualangan ini, setelah pamit dengan Chris dan juga petinggi, Arsa melecutkan tali nya dan kuda mulai melakukan ke arah hutan dengan cepat, petualangan ini baru akan di mulai.

“WOAAAAH ARSA!!” aku dan Hara berteriak di belakang karena kuda yang di bawa Arsa terlalu cepat, “PELAN KAN ATAU KAMU AKU LEMPAR DARI KUDA!” Arsa tertawa melawan deru angin lalu menekankan kecepatan kuda nya “panik ya? Hufft tenang aja guys aku udah bisa mengendarai kuda secara mendadak” jawab Arsa dengan nada sombong.

“mana bisa begitu!”

“memang kamu belajar dari mana Sa?” tanya Hara, “dari melihat penunggang kuda yang lewat di jalanan kemarin saat kita keliling desa”

“bohong!”

“ya sudah kalau tidak percaya Ra” Arsa mengangkat bahu nya main-main dan mengejek, “kalian berdua sudah lah, kita sedang di alam bebas jangan mengundang hewan buas kemari” kata Hara lembut namun tetap tegas. “baik ibu Hara” kata Arsa main-main, Hara hanya menghela nafas pasrah dengan tingkah aku dan Arsa yang jarang akur.

Beberapa jam perjalanan kami istirahat di suatu danau “seperti nya kita masih sangat jauh” kata ku sambil melihat peta, Crish memberikan peta ini sebelum kami berangkat, Arsa merebut peta itu dari ku dengan cepat “kamu benar, waah sepertinya kita harus tinggal di dekat danau ini dulu” aku menahan amarah ku.

“ugh iya!” kata ku kesal dan aku langsung berjalan ke arah danau melihat hamparan air yang luas yang jernih bagaikan cermin yang memantulkan banyak sekali bayangan di dalam nya, Arsa dengan cepat melompat ke dalam danau dan itu membuat ku kaget dan basah karena cipratan dari lompatan nya “Arsa!!” aku yang tidak terima ikut ikutan masuk ke danau hanya untuk balas dendam “awas kamu!” Arsa tertawa dan ia semakin iseng menciptakan air.

“Kalian gak ajak aku? Aku kan juga mau main di air” kata Hara sambil berlari kecil, “awas Ra!” Hara melompat masuk ke danau bagian dangkal bersama aku dan Arsa, kami akhirnya tertawa dan bermain di sana sambil membersihkan debu dari tubuh kami masing-masing.

Kami berganti pakaian di balik batu besar aku dan Hara saling menjaga, lalu dilanjutkan dengan Arsa, kami memakai baju pemberian Chrish dan rasa nya baju ini sangat ringan namun kuat, baju abad pertengahan yang sangat khas.

Di malam hari kami tidur di dalam gerobak itu, karena ukurannya yang agak besar kami bisa bertiga di sana dengan di batasi tas sebagai penghalang antara aku dan Hara dengan Arsa.

Keesokan hari nya kami kembali lanjut berjalan setelah sarapan dan memberi kuda ini makan, “tujuan kita adalah mirror waterfall” Arsa melecut kuda nya dan kami kembali berpetualang, “wow ini pasti jadi perjalanan liburan sekolah terbaik yang pernah ada!” kata Hara semangat “maaf Hara, aku tidak mau menghancurkan semangat mu tapi kita tidak tahu apa yang akan menanti kita di sana, entah itu bahaya atau bukan kita tetap harus waspada” aku bicara pelan.

 Hara mengangguk setuju “um.. Guys?.... Wow! Agrata! Hara! Pegangan!” aku dan Hara sama kaget nya saat Arsa tiba-tiba membelokkan kuda nya ke arah timur dengan cepat. 

Tidak lama setelah itu kuda berhenti “jangan bergerak Ra!” Arsa seperti tahu aku akan melakukan apa ia langsung memperingat kan ku “lalu aku melihat ke belakang ku itu ternyata jurang yang sangat dalam. 

“Jangan bergerak, aku akan coba jalan perlahan” Arsa dengan pelan membuat kuda nya berjalan namun berbatuan mulai jatuh satu persatu “Ra... Gimana ini?” Hara terlihat pucat. 

“Hara, Agrata, pegangan yang kuat, jangan dilepas” aku dan Hara mengikuti arahan Arsa, dan kemudian Arsa langsung melecut kudanya membuat gerobak ini kembali ke atas namun kabar buruk nya tebing ini runtuh satu persatu dan kami mau tidak mau harus mengambil jalan memutar dan cepat!

 Kuda melesat cepat dan pinggiran tebing di belakang kami sudah mulai runtuh dan retak, Arsa mengambil belokan tajam ke jembatan batu dan dengan cepat melintasi jembatan sebelum jembatan ini ikutan roboh “Arsa cepat!!”

 Aku panik karena jembatan di belakang mulai retak dan panjang nya masih setengah lagi, Arsa berusaha untuk tetap secepat angin “uh oh... Arsa cepat!!! Ada sesuatu di belakang sana yang mengejar kita!” Hara berteriak mengalahkan suara angin yang menderu kencang “Astaga! Apalagi?!” Arsa menyeimbangkan kecepatan nya.

“Apa...- apa.. Itu!!?” aku melihat hewan berbentuk serigala namun sebesar harimau, “Mereka mengejar! Arsa! Berapa lama lagi?!” Hara berteriak “sedikit lagi!” dengan cepat Arsa melewati jembatan batu itu namun hewan itu terus mengejar kami, “Agrata! Hara! Kalian bisa pakai panah kan! Gunakan sekarang atau kita akan celaka!” teriak Arsa melawan angin.

Aku dan Hara mengambil panah dari tempat peralatan kami, panah ini kami ambil karena aku dan Hara pernah belajar memanah saat kami masih kelas dasar dan sampai sekarang “bidik yang benar! Dan bertahan lah sampai aku bisa mengakali pergerakan mereka!” arahan Arsa.

Aku mengambil beberapa anak panah dan Hara juga begitu, aku membidik serigala itu namun karena guncangan jadi meleset, kali ini giliran Hara dan woosh anak panah itu melesat tepat di kaki serigala itu dan itu membuat nya terjatuh berguling. 

Aku menembak kan anak panah ku dan mengenai kaki nya, serigala besar itu jatuh satu persatu “Terima kasih kalian berdua” Arsa dengan cepat mengakali sisa dari mereka Arsa berbelok tajam lalu menambah kecepatan nya agar serigala itu tidak bisa mengejar mereka.

Aku dan Hara menghela nafas “hewan apa itu tadi?” aku bertanya sambil mengambil nafas, menenangkan diri “entah lah tapi sepertinya bukan hanya mereka yang akan kita temui” Hara menjawab.

“bagaimana? Kalian aman?” tanya Arsa, “aman” aku menjawab.

Perjalanan terus berlanjut banyak rintangan yang kami hadapi namun masih banyak juga yang belum kami ketahui, aku melihat peta dan sepertinya kami sudah tiba di The darkness forest dan benar saja hutan ini benar-benar gelap, Arsa berhenti sejenak “haruskah kita lewat hutan atau ada jalan lain?” aku memperhatikan peta menggunakan lentera “hm ada satu jalan melewati padang bunga beracun?”

“nama nya Lily Garden

“bunga lily beracun? What happen to this world” Arsa menepuk wajah nya tidak habis memikirkan kemungkinan yang terjadi di dunia ini, kami akhirnya memilih melewati hutan gelap tidak mau mengambil risiko akan keracunan dari bunga lily itu.

“Hanya perasaan ku saja atau, ada sesuatu di dalam gelap ini yang mengikuti kita?” tanya ku waspada dengan panah ku “aku harap hanya perasaan mu saja Ra” kata Hara juga bersiap dengan segala kemungkinan.

Aku membakar ujung anak panah ku dan menembak ke belakang kami namun tidak ada apa pun di sejauh cahaya api itu melesat, Arsa yang sibuk berhati hati dengan cahaya yang minim, ia mengelus kuda nya sambil berjaga jaga jika terjadi sesuatu.

Tiba-tiba saja kuda itu meringkik seperti ada sesuatu di depannya, “ada apa Arsa?” tanya Hara panik, “aku gak tahu Har...” Arsa melihat ke depan dengan menjulurkan lentera menggunakan kayu panjang.

“Arsa! Arsa! Cepat jalan!” aku melihat sesuatu yang besar melaju ke arah kami, tanpa bertanya Arsa langsung melecut kuda nya dan kami melintasi hutan gelap ini dengan berharap ada keberuntungan yang akan datang.

Aku menembakkan anak panah namun itu tidak mempan, makhluk itu seperti bayangan dan bermata hijau emerald, “makhluk apa lagi ini?” Hara mencoba membidik nya mengenai mata nya namun tetap saja nihil, ia tidak memiliki bentuk fisik dan hanya bayangan hitam yang besar.

 Aku melempar nya menggunakan gumpalan kain yang aku bakar ke arah nya, dan itu tidak berpengaruh itu hanya akan membuat api nya padam tak bersisa. 

“Arsa! Cepat!” Arsa terus melecut kuda nya, karena kami tidak bisa mengalahkannya atau menghambat nya Arsa hanya dengan cepat mengendalikan kuda nya. Setiba nya kami di tepi hutan makhluk itu menghilang dalam kegelapan hutan.

“hampir saja...” kami menghela nafas lega

“Ra apa kamu udah bisa melihat peta?” tanya Arsa

“udah Sa..” aku melihat peta dan kami akan segera tiba di suatu taman jamur “Mushforest  adalah tujuan kita selanjutnya”

Namun belum 5 menit berlalu hutan menjadi semakin gelap dan sepertinya ujung dari hutan ini terasa lebih panjang dari pada saat kami masih di kejar oleh makhluk bayangan tadi “hanya aku atau hutan ini rasanya lebih panjang dari sebelumnya... Bukankah tadi kita sudah hampir sampai?” tanya Hara sambil melihat sekeliling.

“hey aku tidak bisa melihat apa pun di depan sana!”

Arsa tiba-tiba berhenti dan kuda meringkik seperti ada sesuatu di depan sana “kenapa berhenti?” Arsa tanpa menjawab dengan cepat mengubah arah ke arah timur “woah! Ada apa?!” tanya ku berpegangan di sisi gerobak “pegangan saja yang erat!” Arsa berteriak mengalahkan suara angin, tiba-tiba saja aku merasakan hembusan angin membuat ku bergidik karena dinginnya angin menyentuh kulit ku.

 “Apalagi ini?” Hara merasakan dingin menusuk jari-jari nya, “Bertahan lah!” Arsa melecut kan kuda nya agar lebih cepat dari sebelumnya namun angin dingin ini membuat tubuh kami seakan akan membeku tidak bisa di gerakkan.

Sosok bayangan itu melewati kami, mata emerald nya menyala nyala dalam kegelapan hutan, sosok itu mengejar kami, semakin ia dekat semakin dingin.

Namun saat sosok itu pergi lagi hawa menjadi hangat dan suhu tubuh ku kembali perlahan begitu juga dengan Arsa dan Hara, “kalian baik-baik saja?” tanya Arsa membuat kuda nya lebih cepat, aku dan Hara serentak menjawab ya.

Satu jam sudah berlalu dari saat kami masuk ke dalam hutan dan kami belum juga mendekati jalan keluar, kami bermalam di gua dekat lembah, dengan penerangan yang minim dan sih yang mulai dingin kembali.

“ah! Kalau begini kita bisa jatuh sakit!” gerutu Arsa sambil mencoba menyalakan api menggunakan kayu dan batu, aku dan Hara hanya diam mencoba menghangatkan diri.

“sial” gusar Arsa melempar kayu dan batu ke arah dinding gua. “Kita seharus nya tidak mengambil jalur ini!”

“maaf.. Gara-gara aku-“ belum sempat aku menyelesaikan kalimat ku, Arsa menyela nya “bukan kamu Ra tidak usah menyalahkan diri mu” dia mengatakannya dengan pelan namun tetap terdengar marah karena situasi ini. 

“Semuanya akan baik-baik saja, kita pasti bisa keluar dari sini dan kembali ke rumah kita bersama orang tua kita” Hara mencoba mencairkan suasana, ia selalu bisa melakukan ini Hara itu seperti penerang bagi pertemanan kami ia selalu bisa mencairkan suasana dan membuat semuanya terlihat baik-baik saja, sang cahaya lembut sebagai penengah kegelapan.

Huh? Cahaya di tengah kegelapan.

“Bayangan itu takut cahaya bukan?” aku melihat Arsa dan Hara bergantian, “iya, lalu?” tanya Arsa, “kita buat api dengan kain-kain yang di berikan Chris”

Arsa lagi-lagi mencoba membuat api dari kayu dan batu itu dan setelah 10 kali mencoba akhirnya percikan api muncul dan kayu terbakar, kami mendengar suara teriakan setelahnya.

“Apa itu?” Hara melihat keluar gua

“Abaikan saja kita fokus membuat ini”

Hara mengangguk dan membantuku mengeluarkan kain dari karung, dan menumpuk nya di atas gerobak, kami menggulung nya di kayu dan membuatnya seperti obor, setelah kami membakar semuanya Arsa sudah siap di atas kuda nya dan bersiap jika harus melesat lagi.

“sudah!” Arsa dengan sigap melecut kuda nya dengan cepat dan kami melewati hutan, hawa dingin mulai terasa saat kami melihat bayangan itu mengejar kami, namun karena suhu obor di sekeliling kami ini membuat udara nya menjadi netral, aku dan Hara melempar kan anak panah yang sudah di bakar.

Hutan di penuhi api dan satu persatu ranting mulai terbakar begitu juga dengan pohonnya, perlahan bayangan itu mulai pudar karena panas. Begitu juga dengan jalan keluar hutan semakin terlihat diujung sana, hutan terbakar dan menggantikan gelap dengan terang nya kobaran api.

Saat kami berhasil melewati hutan ini hutan terlihat lebih cerah dan terang berbeda saat kami di dalam sana, namun api yang tadinya membakar sekarang sudah hilang,

Sungguh The darkness forest kegelapan yang 5idak pernah pudar dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam sana, siapa bayangan itu, dan apa yang ia incar dari kami.

Ternyata kami di hutan itu sudah seharian, karena gelap dan tidak ada cahaya sama sekali kami tidak tahu waktu dan tidak merasa mengantuk, setelah 3 mil dari hutan kami akhirnya tiba di suatu lapangan rumput yang luas, kami berhenti di sana untuk beristirahat.

 Arsa dengan tanpa tenaga menjatuhkan diri nya di atas rumput “hah.. Ini melelahkan , aku mengantuk” Arsa memejamkan mata nya dan tidur di sana, aku dan Hara turun dari gerobak dan duduk di atas rumput dan hei ini lembut tidak tajam padahal seperti rumput jarum.

“Kita di mana sekarang Ra?” Hara melihat ku yang membuka peta “sepertinya kita di The Trava Zemli

“Apa artinya?” tanya Hara sambil berbaring di rumput “entahlah sepertinya ini bahasa rusia aku tidak mengetahui nya, mungkin padang rumput jika dilihat dari tempatnya” aku mengikuti Hara yang berbaring di rumput, “dia cepat sekali tidur nya” aku mendelik ke arah Arsa.

“Aku dengar ya Ra” kata Arsa yang masih menutup mata nya dengan lengannya.

Kami tertidur di sana dan saat kami bangun hari sudah malam “ya ampun berapa lama kita tidur?” aku menggosok mata ku.

“delapan jam?” kata Arsa santai.

“apakah kita akan bermalam disini atau lanjut jalan?” tanya Hara, “tidur saja lah” Arsa menjatuhkan diri nya lagi dan kembali tidur, “astaga dia itu...” aku melirik ke arah Arsa.

Aku dan Hara memutuskan untuk berjaga bergantian berjaga jaga jika ada hewan buas atau semacamnya, aku mendapat giliran terakhir berjaga, aku melihat indah nya sunrise di tempat ini.

Cahaya lembut...

Menyinari wajah ku...

Dan hangat..

“Kamu tidak tidur Ra?” Arsa terbangun dari tidur nya “aku sudah tidur, aku hanya berjaga disini” aku menepuk tempat di sebelah ku

“bagus ya?” Arsa beranjak dari tempatnya dan duduk di sebelah ku, aku mengangguk pelan.

“Kalian tidak mengajak ku?” Hara pun juga terbangun dan ikut duduk di sebelah ku.

Aku hanya terkekeh mendengar pertanyaan Hara, “kalian mau berduaan?” tanya Hara iseng, tawa ku pudar dan aku melotot ke arah Hara.

“Apa??” tanya Hara tidak terima, aku mendengus sebal, ah pertanyaan itu merusak pagi ku, “Agrata salah tingkah?” Arsa melihat ke arah ku.

Aku memukul Arsa tanpa bicara dan kembali melihat sunrise, “aku hanya bertanya” Arsa tidak terima. “Terus begini ya.. Jangan pergi” Hara mengatakannya dengan pelan.

Sebelum berangkat kami sarapan terlebih dahulu dan tibalah kami di The mushforest, “oh astaga....” Arsa mendongak kan kepala nya melihat jamur yang begitu besar dan tinggi. Di hutan jamur ini kami menemukan banyak sekali jamur yang memiliki ukuran jauh berkali lipat dari dunia kami.

Sejauh ini perjalanan kami sudah hampir mencapai 1 minggu, sepertinya kami sudah di nyatakan sebagai orang hilang di kota kami. Sudah banyak lokasi yang kami kunjungi hari demi hari berganti dan kami tak percaya apa yang kami lihat.

“kita... Hanya memutar?” tanya Arsa melihat desa Zayira

Namun saat kami memasuki desa, tidak ada penduduk di sana ini bahkan lebih mirip desa mati, dan kerajaannya? Kami benar-benar tidak bisa berkata kata melihat kerajaan yang begitu megah sekarang hanya lah puing-puing bangunan.

“Apa yang terjadi disini?”

Chris??!

Aku tanpa bertanya berlari menuju kafe Chris “Ra!” Arsa dan Hara mengejar ku, dan ya ampun.. Chris..

Aku melihat Chris dengan wajah nya yang pucat kehabisan darah

“Oh.. Astaga” Arsa tak percaya yang ia lihat, Hara yang memiliki ketakutan dengan mayat menutup pandangannya di balik ku dan mata nya berkaca kaca.

Namun tidak lama sosok petinggi desa muncul dari dalam kafe tepatnya dari ruang rahasia Chris dan kaget melihat kami bertiga, “k-kalian?! Kalian selamat?? Kenapa kalian kembali?! Ya ampun ini bencana...” petinggi itu tanpa basa basi langsung menyuruh kami masuk ke dalam dan ia menjelaskan semuanya.

Ia mengatakan jika setelah kami pergi desa dilanda bencana yang di bawa oleh si wanita yang membawa kami kemari, ia mengirim energi jahat dan menghasut beberapa penduduk dengan janji akan memberi mereka kekayaan yang berlimpah.

Karena gelap mata mereka membuat kerusuhan di desa dan menghabisi beberapa orang, wanita itu mendatangi langsung Chris dengan alasan Chris telah memberi tahu kami apa yang terjadi di desa ini dan cara bagaimana kami keluar. 

Ia menghabisi Chris dengan melukai nya dan mengirim tanaman rambat yang akan menghisap darah nya, Chris mati di saat kami pergi 1 hari setelah nya. 

Petinggi bisa selamat karena ia melarikan diri bersama beberapa penduduk dan bersembunyi di ruang rahasia Chris namun di saat tanaman rambat wanita itu masuk dari sela-sela ruangan dan menangkap sisa penduduk. 

Petinggi berusaha dan menghalangi semua rambat tetapi hal itu tak berguna banyak dan malah membuat tanaman semakin agresif membawa penduduk ke atas dan wanita itu menghabisi mereka. 

Dan hal yang paling mengejutkannya adalah ini sudah 3 minggu sejak kami pergi, sedangkan kami merasa baru bepergian selama hampir 1 minggu, tapi bagaimana bisa. Bahkan keluarga kerajaan sudah mencoba namun karena serangan tiba-tiba raja, ratu, dan putri terpaksa mengungsi ke kerajaan tetangga di bagian utara sana.

“Apa yang harus kami lakukan? Kenapa wanita itu mengincar kami? Dan kenapa ia melakukan ini?” aku dengan cepat bertanya segala yang terlintas di kepala ku

Petinggi itu hanya diam melihat ku sejenak lalu angkat bicara “aku tidak bisa memberitahu mu nak... Tapi hanya satu yang kalian harus tahu, Chris orang ini sudah berkorban untuk menyelamatkan kalian begitu juga dengan Heena ia juga membantu kalian karena itu ia di bakar oleh sang wanita itu di saat nak Agrata dan nak Arsa pergi”

Aku menatap tak percaya.

“Nak Arsa.. Chris percayakan pedang itu kepada mu, kamu akan melewati hal yang sulit di mana kamu harus memilih pergi atau membantu teman mu, kamu kekuatan di tim ini karena itu jagalah tim mu sendiri”

“Nak Agrata.. Dan nak Hara.. Chris juga percaya kan panah itu untuk kalian berdua, itu bukan panah biasa, panah itu akan

“Nak Agrata.. Dan nak Hara.. Chris juga percaya kan panah itu untuk kalian berdua, itu bukan panah biasa, panah itu sebenarnya sangat kuat, jika kalian mengarahkannya dengan benar itu akan jadi sangat mematikan”

“ingatlah tujuan kalian hanya satu.. Carilah Aksara dan kembali lah ke dunia kalian, jangan pernah melihat ke belakang setelah kalian menemukan Aksara”

Kami mendengar baik-baik perkataan petinggi

“Aksara itu siapa?” tanya Hara

Petinggi itu tersenyum

“Aksara bukanlah nama seseorang melainkan cahaya, Aksara harapan kalian terakhir untuk kembali, jika kalian tidak bisa menemukannya maka tidak ada jalan untuk kembali” petinggi menghela nafas dan menatap kami bertiga.

“Hanya saja... Berhati hati lah.. Wanita itu sangat berbahaya”

Malam hari nya kami tidur di ruang rahasia Chris bersama petinggi itu. Keesokan hari nya petinggi itu memberi tahu lokasi letak Aksara akan muncul dan tanpa basa basi kami segera ke sana.

“ini bawa lah ini” petinggi itu memberi Arsa kalung dengan batu emerald yang sudah di ukir “ini akan membantu pencarian Askara akan berada di mana” Arsa mengangguk

Kami dalam perjalanan menuju silas, salam satu hutan di Zayira yang mana Askara akan muncul di sana dan menghilang saat fajar tiba, aku melihat ke arah kalung Arsa yang mulai bercahaya saat kami mulai memasuki hutan. 

Hutan bergemuruh tanpa kami tahu tanaman di sana bergerak, banyak tanaman yang memiliki bentuk yang aneh. “Arsa hati-hati!” Hara melempar anak panah nya ke arah tanaman rambat yang muncul dari arah samping, aku menembak dari arah belakang.

Kalung Arsa semakin bercahaya, “kita semakin dekat!” namun setelah itu kuda yang ditunggangi Arsa di tembak oleh panah dan itu membuat kami terguncang dan jatuh ke tanah “ah!”

Badan ku menabrak batang pohon, Hara terhempas ke tanah, dan Arsa hampir mengenai kayu yang tajam “h-hampir saja” Arsa cepat menjauh dari sana dan menghela nafas lega, Hara perlahan bangkit sambil membersihkan tanah dari wajah dan tangannya, aku mencoba bangun dan meluruskan badan ku. Namun  karena hempasan itu jadi terasa sakit saat ku gerakkan.

Sedangkan kuda nya jatuh terkulai di tanah tak bergerak, Arsa yang melihat itu segera menghampiri nya, mencoba membangunkan kuda nya namun tidak ada sedikit pun gerakan

“astaga... Kuda ini mati”

Arsa melihat panah itu dan saat ia hendak mengambilnya panah lainnya muncul Arsa dengan cepat menghindar “woah hampir saja..”

Kami bertiga kembali berdiri dan menjadi waspada apa yang akan terjadi selanjutnya, aku dan Hara mengambil panah kami dan bersiap, sedangkan Arsa mengambil pedang nya, pedang itu bersinar begitu juga dengan anak-anak panah aku dan Hara.

Sosok wanita itu muncul dari arah timur, ia menggunakan jubah hitam perawakannya seperti wanita 30 tahun. “oh ya ampun.... Itu dia” Hara bergidik ngeri.

Wanita itu tampak tersenyum ke arah kami, dan dia dengan cepat menyuruh akar rambat di hutan ini membantu nya, aku dan Hara menembak ke arah tanaman rambat nya, sedangkan Arsa mengayunkan pedang nya dengan mahir, bagaimana bisa?

Arsa itu seseorang yang cepat tangkap oleh suatu hal, hanya dengan sekali melihat dan mengingat nya, dan itu membuatnya mahir dalam hampir segala hal.

Wanita itu tertawa dan ia menghentikan tanamannya lalu tertawa “kalian ini sangat naif, sudahlah menyerah saja dan tinggal lah di sini bersama ku, aku akan memperlakukan kalian seperti anak sendiri” wanita itu terkekeh pelan dan menyeringai.

“Apa sebenarnya mau mu?!” aku berteriak, wanita itu terkekeh “oh begitu kah cara bicara pada wanita yang lebih tua dari mu? Dengan berteriak?” Wanita itu menyeringai ke arah kami. Lalu wanita ini dengan cepat melilitkan kami dengan akar rambat nya namun dengan cepat Arsa menebas semua akar itu termasuk menebas milik ku dan Hara.

“Agrata.. Hara... Maaf kan aku, sedari kemarin aku hanya bisa diam dan membawa kalian pergi sedangkan kalian berjuang melawan makhluk di sini sekarang izinkan aku untuk bertarung bersama kalian” Arsa dengan terampil menebas semua tanaman milik si wanita.

Wanita itu tertawa dan semakin banyak menyebar tanaman ini dan beberapa tanaman lainnya “kalian keras kepala sekali, padahal aku sudah bersusah payah untuk menangkap kalian tapi sayang anak pembangkang harus di habisi”

Aku menembak kan panah ku ke banyak tanaman bahkan panah ku sekarang sudah bermunculan api , sedangkan Hara panah mengeluarkan zat asam dari ujung anak panah, pedang Arsa sekarang sudah berubah dengan api menyala terang menebas segala nya dan tibalah saat kami dapat mencapai wanita itu, seketika tubuh kami berhenti kedinginan seakan aku akan mati kedinginan.

“Astaga” tubuh ku kaku.

Wanita itu tertawa “seharusnya kalian tidak usah bermain dengan ku..”

Namun belum sempat ia bicara lagi Arsa melesat dan mengacungkan pedangnya ke arah wanita itu, dan Arsa berhasil menggores wajah nya walau hanya sedikit.

Wanita itu terlihat sangat kaget, dan sekarang ia terlihat marah. Tanaman rambat kembali semakin agresif, namun Arsa tidak terpengaruh ia berlari lari di antara rambat itu dan melesat menuju wanita itu, namun saat Arsa sibuk dengan nya, Askara muncul di tengah-tengah kami.

“A-askara” kata ku sambil masih memanah.

“ayo cepat Ra!” Hara mencoba berlari ke arah cahaya itu, “Arsa!” Hara berteriak.

Namun Arsa yang sudah tersulut emosi hanya mencoba untuk melukai wanita itu, tanaman rambat menangkap nya namun Arsa dengan cepat memotong semua tanaman rambat nya, aku mengikuti Hara ke arah Askara, tanaman rambat itu sedang sibuk dengan Arsa.

“Arsa cepat kesini!” Arsa melihat ke arah kami dan saat ia hendak berlari, tanaman rambat menangkap Arsa, ia mencoba melepaskan diri.

“Agghhh! Lepaskan aku!!” Arsa memberontak

Lalu satu anak panah menancap di tanaman rambat yang membuat tanaman itu mati, petinggi itu di sana ia mengejar kami sampai ke sini dan terus menarik panah nya. “kalian cepat lah pergi, biarkan aku di sini”

Arsa dengan cepat segera pergi tanpa membuang waktu, kami melihat petinggi itu menyerang wanita itu. “pria tua menyebalkan” wanita itu menangkap petinggi.

“Cepat!”

Aku, Hara dan Arsa dengan cepat melewati cahaya itu, wanita itu berteriak marah.

Kami melewati cahaya seperti lorong tanpa batas, namun dalam sekejap kami tiba di dalam perpustakaan ini lagi, baju kami kembali normal, dan semua buku terlihat seperti tidak pernah terjadi badai, semua tersusun rapi.

“a..apakah sudah selesai? Bagaimana petinggi itu? Wanita nya?” Hara bertanya.

“Kalian baik-baik saja?” Arsa melihat kami

“bagaimana nasib kita di sini? Kita sudah berminggu-minggu hilang bukan?” tanya ku

“Sebaiknya kita cepat keluar dari sini” Arsa berjalan menuju pintu keluar, aku dan Hara mengikuti, saat keluar kami melihat ibu Arsa di sana dengan mobil nya.

“Ibu!” Arsa memanggil

Kami semua berlari ke arah nya.

“kalian kenapa? Kok.. Pucat begitu? Ada hantu?” ibu Arsa tertawa kecil melihat kami, “bukannya kami hilang berminggu-minggu?” Hara bertanya.

“hah? Apa yang kamu katakan Hara? Kalian baru saja pergi 3 jam yang lalu” ibu Arsa tersenyum “kalian bermimpi?” ibu Arsa melihat wajah bingung kami.

3 jam!?

“sudah lah ayo masuk, ibu buat kan sup untuk kalian di rumah” ibu Arsa memasuki mobil dan menunggu kami, kami hanya menuruti nya dan ikut masuk.

“Woah ini aneh sekali” bisik Arsa

Saat aku melihat ke perpustakaan badan ku merinding melihat sosok wanita itu di sana, di jendela sedang melihat ke arah kami menyeringai ke arah ku. Aku melihat nya sampai kami jauh dari lokasi perpustakaan itu.

“bagaimana perpustakaannya? Apa yang kalian temukan di sana?”

“banyak bu, tanaman rambat, hutan, dan lain nya” jawab Arsa santai

“Arsa sudah bisa menunggangi kuda!” jawab Hara sambil tertawa.

Ibu Arsa terkekeh mendengar jawaban kami.

Ini adalah libur sekolah tergila yang pernah aku lakukan! Ugh aku berharap tidak pernah kembali ke sana, tapi siapa wanita itu dan kenapa ia melakukannya bagaimana nasib desa, kerajaan, dan petinggi itu.. Huff terlalu banyak pertanyaan, sudahlah terpenting kami tidak di nyatakan sebagai orang hilang dan kami selamat dari buku itu.. Buku? Iya buku itu membawa kami ke negeri Zayira.

Semoga besok adalah hari yang baik untuk memulai sekolah.