Askara
Suatu hari
aku pernah mengalami hal yang bisa di bilang menegangkan dan pengalaman baru,
ini adalah kejadian yang tidak akan aku lupakan. Nama ku Agrata aku berumur 18
tahun, dan sekarang aku akan menceritakan kisah ku 2 tahun lalu, tepatnya saat
aku berumur 16 tahun.
Semuanya berawal dari saat aku,
Hara, dan Arsa sedang mengobrol lewat telepon, aku, Hara dan Arsa sudah dekat
sejak kami smp, dan mereka adalah teman baik ku.
Saat itu adalah liburan sekolah, semua anak-anak akan berlibur bersama keluarga ataupun teman mereka, begitu juga kami, namun 2 minggu sebelum sekolah di mulai Arsa memberi tahu aku dan Hara jika ada perpustakaan lama yang masih berdiri di kota Gloom Heaven.
"Wow itu bukankah kota lama?" Tanya Hara lewat telepon. "Yaa itu memang kota lama tapi bangunan itu terlihat masih bersih dan tidak ada tanda-tanda akan roboh" kata Arsa "kalian harus kesini, besok aku akan jemput kalian!, gimana Ra?" Lanjut Arsa
"Terakhir kali kamu memilih tempat kita nyaris tersesat Arsa" kata ku, "ayolah Ra, aku janji kali ini tidak akan tersesat", "ayo Ra kita ikut, aku juga bosan nih.. setelah pulang dari pantai aku hanya di rumah saja" lanjut Hara, aku menghela nafas pasrah "oke baiklah".
"Yess!" Arsa semangat "di rumah Agrata oke?" Aku dan Hara hanya mengiyakan pertanyaan Arsa.
Keesokan harinya Arsa datang bersama
ayahnya untuk mengantar kami bertiga ke kota lama itu, selama di perjalanan
kami sibuk membahas soal apa yang akan kami lakukan disana nanti, dan membayang
bayangkan seperti apa isi perpustakaan itu.
2 jam perjalanan akhirnya kami tiba di kota lama, dan kami berhenti di depan gedung perpustakaan itu, dan benar saja ini sangat besar dan terlihat mewah, seperti sangat terjaga, padahal kota ini sudah tidak banyak orang yang tinggal karena beberapa masalah.
"Wow lihat lah buku-buku itu...astaga banyak sekali" Arsa yang pertama melangkah masuk kagum dengan banyak nya buku-buku memenuhi rak dari bawah hingga atas, aku dan Hara juga merasa kagum, "bau buku-buku lama" kata Hara pelan, aku hanya mengangguk, Arsa yang sudah kelayapan entah ke mana
"Hei kemari!" Arsa yang kelepasan berteriak membuat orang di sekitarnya melihat ke arahnya, tapi tatapan mereka aneh, aku hanya langsung menghiraukannya dan pergi ke tempat Arsa, "ada apa?" Tanya Hara pelan, "lihat buku-buku ini, ini kelihatan sudah tua dan berdebu semua" Arsa akhirnya memelankan suaranya, kami melihat lihat buku-buku itu, dan ada 1 buku yang menarik perhatian ku, itu buku tebal memiliki sampul coklat dengan itu berjudul “The Kingdom Of Zayira”
Aku membuka buku itu dan
debu beterbangan membuat ku bersin, Arsa yang mendengar ku tertawa, aku melotot
ke arahnya itu membuatnya semakin geli, Hara mencoba menyuruh Arsa diam karena
kami bisa jadi pusat perhatian disini “shhh udah dong, nanti kita di usir
karena ribut bagaimana?” tanya Hara berbisik, “ayolah itu tidak akan terjadi”
sangkal Arsa.
Aku mengabaikan Arsa dan melihat sekeliling dan selintas aku melihat seseorang yang memakai jubah hitam “apa itu barusan? “ pikir ku, aku memalingkan wajah ku dan kembali melihat buku tua itu, bahkan Hara dan Arsa yang tadinya berdebat ikut melihat ke arah ku “buku apa itu Ra?” tanya Arsa.
Aku hanya mengangkat
bahu tidak tahu, mereka menghampiri ku dan kami melihat halaman per halaman
buku itu, kertas nya sudah menguning dan bau nya khas buku tua yang seperti
sudah tidak pernah di buka lagi.
Tibalah saat kami sampai di halaman 20 aku merasakan hawa aneh “kalian merasakan sesuatu tidak?” aku melihat ke arah Hara dan Arsa bergantian “aku iya nih seperti ada sesuatu yang akan menarik kita...” kata Hara sedikit khawatir.
Arsa melihat sekeliling dan melihat sudah tidak ada orang di sana kosong “ke mana semuanya..?” aku dan Hara juga ikutan melihat ke berbagai arah dan benar saja disana kosong “um.... Guys...?” aku merasakan seliweran angin di wajah ku, dan dalam sekejap angin itu menjadi sangat kencang dan menerbangkan banyak buku, kami berusaha untuk menahan kan berat kami di sana agar tidak terbawa angin.
“Berpegangan ke rak!” suara Arsa melawan suara angin, kami
berpegangan di rak berharap angin cepat berlalu, namun bukannya berlalu angin
semakin kencang pegangan ku hampir terlepas, “Kenapa angin ini tidak berhenti
sih?! Ini angin apa!?” Hara melawan suara angin.
Tangan ku
terlepas dan aku terlempar mengikuti arah angin, namun dengan cepat Arsa
menangkap tangan ku dan menarik ku.
“Pegangan
Ra!” teriak Arsa melawan angin
Aku
menggenggam tangannya erat dan berusaha menyeimbangkan diri ku di lantai.
Tak lama
angin semakin kencang dan akhirnya membuat pegangan kami bertiga terlepas, kami
terlempar mengikuti arah angin.
Kami
berteriak dan...
Aku
terbangun di hamparan rumput hijau yang luas “di mana aku?” pikir ku, aku langsung bangun dan melihat
sekeliling “Hara!? Arsa!?” mereka tidak ada disana
Aku berdiri
dan melihat sekitar ku, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku berada di
hamparan rumput yang luas dan aku melihat desa disana, aku kaget saat melihat
baju ku berubah menjadi baju abad pertengahan “a..apa?” aku mengerutkan dahi ku
sangat bingung dengan semua ini.
Aku di mana!?
Di sisi
lain, Hara terbangun di pinggir sungai sama hal nya dengan ku, ia terkejut
dengan lokasi nya dan pakaiannya juga berubah.
Begitu juga
dengan Arsa yang terbangun di desa dengan baju yang bisa di bilang juga baju abad
pertengahan.
Kami
terpisah jauh satu sama lain, aku mulai berjalan mengarahkan ke desa melewati
hamparan rumput yang begitu luas dengan banyak nya bunga Aster yang indah.
Aku
menelusuri hamparan itu dan setelah berjalan 10 menit aku tiba di desa nya ,
banyak sekali orang di sana ada yang berjualan, anak-anak bermain main, ada
yang membawa dagangannya dengan gerobak kuda nya.
Aku
memperhatikan sekeliling dan aku melihat kerajaan di sana, terlihat mewah dan
megah.
Tanpa sadar
aku berjalan ke toko roti, dan seorang wanita bertanya pada ku “kamu mau beli
apa?” aku yang tidak sadar tersentak dan melihat ke arahnya “ah.... Tidak.. Aku
tidak ada uang bu” wanita itu melihat ku mengkerut “kamu.. Bukan anak di desa
ini bukan?” aku hanya menggeleng lalu melihat wanita itu, diam sejenak lalu
wanita itu mengambilkan roti baguette “ini ambil dan makan lah, kamu pasti
lapar nak” kata wanita itu sambil memberikan
roti yang sudah terbungkus itu kepada ku, “eh... Ini tidak perlu bu..
Aku tidak lapar kok” tolak ku, namun wanita itu memaksa ku untuk mengambil roti
nya “ini pasti akan berguna buat mu jadi bawalah ini” wanita itu tersenyum
hangat ke arah ku.
Aku hanya
mengangguk dan mengambil nya “Terima kasih banyak” aku tersenyum, “tidak
masalah, nama kamu siapa nak?”
“Agrata” aku
tersenyum
Tak lama saat
aku sedang mengobrol aku tidak sengaja melihat seseorang yang familiar.
“ah sebentar
bu!” aku langsung berlari kearah nya “Arsa!”, anak laki laki itu menoleh ke
arah ku dan dia tersenyum, benar saja dugaan ku itu Arsa.
“Ra!” dia
berlari ke arah ku dan saat bertemu kami diam mengambil nafas.
“kamu dari
mana saja?!” aku berteriak pada nya namun aku juga senang bertemu dengannya.
“Ya ampun
Ra... Kupikir aku tidak akan bertemu dengan mu lagi, di mana Hara?” lalu aku
terdiam raut ku berubah khawatir “aku
belum bertemu dengannya sejak kita di sini”
Arsa
menghela nafas
Malam ini
kami bermalam di rumah wanita toko roti itu, “sebelumnya perkenalkan nama ibu Heena
” wanita itu tersenyum ke arah kami.
Arsa
memperkenalkan diri nya dan kami menceritakan kejadian yang kami alami termasuk
kami kehilangan teman kami di sini.
Setelah
bercerita panjang lebar aku dan Arsa beristirahat di rumah ibu Heena, ibu Heena
sangat baik kepada kami beliau sudah memberi kami tempat untuk beristirahat dan
juga makanan, aku sangat berhutang budi padanya.
Di pagi hari
nya bu Heena sudah berangkat ke toko roti nya untuk membuat roti, aroma roti
tercium saat aku dan Arsa memasuki toko itu. Ibu Heena tersenyum saat melihat
kami masuk “Agrata... Arsa... Kemarilah” katanya.
Kami
mendekati wanita itu lalu wanita itu memberikan kami dia roti baguette yang
masih hangat “makan ini saat kalian di
perjalanan, ini tidak banyak tapi ku harap ini akan membantu kalian” wanita itu
tersenyum, aku dan Arsa mengangguk “Terima kasih bu” kata ku, “kami pasti akan
memakannya kok! Roti buatan ibu itu enak banget!” kata Arsa melanjutkan, Ibu Heena
hanya terkekeh mendengar ucapan Arsa.
Tidak lama
setelah itu kami memutuskan untuk berjalan jalan sambil mencari keberadaan Hara,
“ku rasa ini akan sulit..” kata ku sambil melihat keramaian di desa ini.
“ayo ra!”
Arsa menarik tangan ku di antara keramaian dan berlari keluar dari pusat desa,
aku yang tidak sempat bereaksi hanya mengikuti arah Arsa, “kita akan kemana?”
“ke bagian
balai desa!”
Sesampainya
kami di sana, aku dan Arsa mengunjungi petinggi desa yang tadi malam di beri
tahu kan oleh bu Heena.
Petinggi
desa itu mengatakan jika di desa ini juga sering kedatangan penduduk asing, ia
juga mengatakan ini sudah kesekian kalinya seseorang tersesat di bagian desa
ini. “jika kalian ingin mencari nya carilah di sekitar hutan atau tempat tempat
sepi yang jarang didatangi orang” kata petinggi itu.
Arsa yang
mendengar itu semakin semangat untuk berjelajah “berapa jauh hutan itu?” tanya
ku, “hutan itu agak jauh dari sini, namun kalian bisa memakai kuda ku untuk
pergi kesana” aku mengangguk setuju
“Terima kasih”.
Setelah
mengambil kuda dari kandang petinggi itu membantu kami menaiki kuda, Area
berada di depan dan aku memegang pundak nya.
“kamu pernah
menunggangi kuda nak?” kata petinggi itu sambil melihat kearah Arsa.
Arsa
menggeleng “tenang saja! Ini pasti mudah” dia nyengir
Petinggi itu
memberi tahu kami cara nya, “oke! Siap ra! Pegangan!”
“uh... Kamu
yakin? Tanya ku tidak yakin dengan Arsa. “udah pegangan aja di pundak ku, pasti
bisa kok” aku dengan ragu memegang pundak Arsa agar tidak terjatuh, dan begitu
Arsa melecutkan tali nya kuda ini berlari sangat cepat, aku berteriak karena
cepat nya.
“Ya ampun Ra
telinga ku bisa berdarah nanti” kata Arsa main main.
Tidak selang
lama sekitar 10 menit melaju kuda kami menabrak pohon karena Arsa tidak bisa
mengendalikan kuda nya.
“Lihat!
Sudah ku bilang kamu tidak bisa!” aku mengomel karena kejadian ini, Arsa
terlempar dari kuda nya dan masuk ke lumpur, saat melihat wajah Arsa yang penuh
lumpur aku mentertawakannya, Arsa hanya mendengus sebal sambil menyeka lumpur
dari wajah nya.
Kuda kami
bangun kembali seperti nya dia merasa pusing karena tabrakan, tidak berselang
lama kuda itu berlari kencang meninggalkan kami di tengah hutan. Aku dan Arsa
hanya terheran heran melihat kuda itu , Arsa menghela nafas “bagus.. Sekarang
apa?”
“bukan aku
yang punya ide ini” kata ku tidak mau disalahkan.
Namun tiba
tiba terdengar suara dari semak semak, aku langsung menoleh ke arah suara itu
begitu juga dengan Arsa, “Um... Arsa.. Kamu ingat kata petinggi? Di sini ada..
Hewan buas bukan?”
“Ra...
Petinggi tidak pernah berkata begitu..”
“oh ya..
Kamu benar, harus kah aku cek?” tanya ku sambil melihat ke semak semak.
“Tidak..
Biar aku saja, aku akan melindungi mu Ra” Arsa sigap berjalan ke semak semak
itu dan....
Hara muncul
tiba tiba dari semak semak dan itu membuat Arsa kaget dan spontan ia melompat
mundur, begitu juga Hara ia kaget melihat kami berdua.
“Hara?!” aku
dan Arsa serentak. Aku dengan cepat memeluk Hara erat “kamu dari mana aja?
Kenapa tidak ke desa?” tanya ku. “aku tidak tau dimana desa berada.. Dan kenapa
kita bisa ada disini? Ini di mana? Kita di mana Ra..?” tanya Hara cemas.
“Oke guys
bisa kah sesi drama ini selesai dulu? Kita masih butuh waktu panjang untuk kembali, tanpa kuda” sela Arsa.
Kemudian kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke desa, sesampainya di desa kami mengajak Hara untuk pergi ke rumah ibu Heena, namun saat kami ke sana wanita itu sudah tidak ada, dan yang membuat kami kaget adalah toko roti dan rumah nya sudah terbakar, aku dan Arsa mematung “ya ampun... Apa yang terjadi?” tanya Hara sambil menyaksikan rumah yang hampir setengah terbakar itu.
Lalu seorang pria tua menghampiri kami “maaf, kalian yang bersama Heena kemarin?” kami serentak menoleh dan aku mengangguk , pria tua itu terlihat sedih mata nya seperti menyimpan kenangan buruk “sebelum nya saya minta maaf, Heena sudah tidak ada, ia tertimpa salah satu balik kayu dan meninggal di saat itu, kepala nya terbentur...
Dan kami terlambat membantu nya...” seketika kami mematung
tidak percaya apa yang kami dengar.
“itu tidak
mungkin!” aku tidak terima hal itu terjadi, aku menangis, aku tahu ibu Heena
hanya lah seseorang yang baru saja ku temui saat aku tiba di sini, namun ia
sudah banyak membantu dengan memberikan makanan dan tempat tinggal, disana Hara
mencoba menenangkan ku “sudahlah Ra...”
Kami pergi ke balai desa, kami menginap disana sementara, aku masih diam setelah mendengar berita kematian Heena namun Arsa dan Hara mencoba untuk menghibur ku “ayolah Ra, bu Heena pasti sedih lihat kamu jika sedih dengan kematiannya” kata Arsa.
“Iya
Ra.. Jangan berlarut dalam kesedihan lagi pula kita masih punya tujuan untuk
pergi dari sini kan? Kembali ke rumah kita” Hara sudah tau semua nya, Arsa
menceritakannya secara lengkap tentang siapa Heena sebenarnya. Malam itu kami
tidur di balai desa, aku dan Hara tidur di ruang petinggi, sedangkan Arsa di
luar sendirian.
Keesokan
hari nya kami di bangun kan oleh petinggi itu dan ia berkata jika mereka
memiliki kendala di sektor pertanian dan meminta bantuan para anak anak untuk
ikut termasuk kami, “Hoam... Hara... Agra.. Kenapa kita harus ikut sih..
Merepotkan banget” kata Arsa yang baru saja bangun “shhh ikuti saja jangan
banyak protes” kata Hara mewakili ku, Arsa hanya mendengus sebal karena disuruh
bangun sepagi ini hanya karena sektor pertanian mereka rusak.
Sesampai nya
kami di sana dan benar saja banyak tanaman yang rusak dan di hinggapi belakang
dan hama lainnya, “padahal dulunya desa ini sangat indah dan kaya akan
pertanian dan peternakan nya namun sejak kejadian di masa lalu yang menyebabkan
desa ini semakin terbelakang, banyak nya petani yang meninggal karena sakit
atau bahkan di sihir.. Kami kehilangan banyak sekali penduduk pada masa itu”
jelas petinggi desa.
“sesuatu
yang indah akan berakhir juga”
“memang ada
kejadian apa yang terjadi di sini?” tanya Hara
“kejadian
yang tidak akan pernah di lupakan oleh penduduk di desa Zayira ini, bahkan raja
dan ratu saat itu pun sangat kewalahan” petinggi desa itu melihat ke arah
sektor lalu melihat kami secara bergantian. “Kalian tidak berasal dari negeri
ini bukan?” sorot mata petinggi itu berubah menjadi dingin.
“Lagi lagi
dia melakukan nya... Ini bencana” suara nya menjadi cemas
“dia?
Siapa?” tanya Arsa
“Seseorang
yang membuat kalian masuk ke negeri ini, tapi sayang sekali aku tidak bisa
memberikan semua informasi kepada kalian, maaf kan aku anak-anak” petinggi itu menghela nafas
pasrah dan terlihat wajah nya yang sendu.
Siang hari
kami berjalan jalan di desa melihat suasana desa Zayira, desa ini bernama
Zayira karena di pimpin oleh Kerajaan Zayira, terdapat istana yang megah
berdiri di atas desa ini The Kingdom of Zayira.
“Hara...
Agra..” aku dan Hara menoleh ke arah Arsa “ada apa?” tanya Hara
“putri
kerajaan ini cantik banget!” mata Arda berbinar binar melihat putri raja dan
sang ratu lewat dengan kereta kuda nya. Aku memukul lengan nya “jangan main
main kita harus cari cara untuk keluar dari sini”
“aku hanya
mengagumi? Kenapa? Kamu cemburu hm?” Arsa menggosok bagian lengannya yang aku
pukul, “bicara sekali lagi aku dan Hara saja yang keluar dari ini” aku melihat
Arsa tajam. “bilang saja cemburu, gapapa tinggalin aja aku, siapa tau aku
bersama putri raja” Arsa tersenyum mengejek.
Aku menyeret
Arsa paksa “ayo Hara kita lanjut jalan”
“Ra! Sakit!
Lepasin aku!” Arsa berusaha melepaskan kerahasiaan baju nya dari ku, “diam
lah...”
Setelah sekitar
30 menit berjalan aku melepas kerah Arsa dan Arsa terlihat sebal dan baju nya
jadi kusut “kamu mau minum Ra?” tanya Hara. “kamu mau?” aku melihat ke arah
Hara “aku mau Ra” Arsa dengan cepat menjawab “bukan kamu!”
“kalau kamu
mau aku ikut kok Ra” aku mengangguk setuju
“dih pilih
kasih” Arsa bergumam
“diam atau
ku tinggalkan” aku berjalan memasuki kafe lalu disusul oleh Hara, penjaga kafe
itu melihat tajam ke arah ku dan Hara “um... Ra.. Kamu yakin disini? Sepertinya
penjaga itu tidak ramah..” bisik Hara. “kamu benar Ara... Tapi-“ belum sempat
aku lanjutkan tiba tiba Arsa masuk dengan heboh “Wow! Bagus sekali!” aku dan
Hara kaget mendengarnya tiba tiba “Arsa!” Hara berbisik, “paman! Apakah paman
punya milkshake?”
“ya ampun”
aku menepuk wajah ku melihat tingkah kekanak-kanakan Arsa, penjaga itu
tersenyum saat melihat Arsa dan tidak berselang lama Hara juga ikut ikutan
“Arsa aku juga mau milkshake!!”
“sini Ara..”
Hara bergabung dengan Arsa memesan milkshake mereka “kenapa aku selalu terjebak
bersama mereka sih..” aku mendesah lalu berjalan menuju meja
“Kamu gak
mau Ra? Ini enak tau, lebih enak dari pada milkshake di dekat rumah Arsa!” Hara
terkekeh “tidak terima-“ tiba tiba saja Arsa menarik ku ke kursi di sebelah nya
dan dia memesankan satu milkshake lagi “udah kamu duduk aja di sini santai,
yakan Har” Hara mengangguk sangat setuju, aku hanya menghela nafas pasrah
“terserah saja lah.. Tapi kamu yang bayar”
“Tenang...
Apa yang gak ada di tangan Arsa” kata Arsa sombong
Aku memutar
mata ku, sedangkan Hara menikmati milkshake coklat nya.
Namun disaat
kamu akan pergi meninggalkan kafe, tiba tiba saja penjaga kafe ini memanggil
kami dan menyuruh kami tetap di sana hingga kafe tutup, sebagai gantinya ia
akan membawakan kami makan siang dan malam secara gratis.
“Kalian
jangan ke mana - mana sampai aku katakan pergi, mengerti?” nada pria itu tegas
“aman paman, kalau ada makanannya sih aman” aku menyikut perut Arsa, membuat
nya tersentak “apa sih Ra? Kan aku benar” Hara hanya terkekeh melihat kami “kalian
lucu-“
Aku dan Arsa
berbarengan menjawab tidak, dan itu membuat Hara semakin geli, di tengah
situasi begini dia selalu mencairkan suasana.
Kami
menunggu di kafe ini sekitar 4 jam dan saat kafe tutup, kami dipanggil oleh
penjaga kafe itu, “kalian bukan berasal dari desa ini bukan?” suara nya berat
dan tegas.
Kami saling
melihat satu sama lain lalu kembali melihat paman itu, Hara menggeleng kan
kepala nya “bukan paman... Kami dari kota”
“dari kota
apa kalian berasal?” Hara menjawab pelan “kota Gloom heaven” pria itu terdiam
sejenak sambil melihat sekelilingnya seperti memastikan sesuatu “kalian ikuti
aku” pria itu berputar dan berjalan ke arah salah satu botol kaca yang sudah
kosong lalu ia menarik nya, dan muncul lah ruang bawah rahasia dari balik
lantai kayu “wow! Keren!” Arsa terpukau
Pria itu
memberi arahan agar kami mengikuti nya ke bawah, kami bergerak maju mengikuti
arah pria itu, “Ra kita mau dibawa kemana?” tanya Hara cemas
“tenang aja
Har kita punya Arsa, dia kan mau melindungi kita” kata ku sambil tersenyum sarkas,
sedangkan Arsa hanya mende-cih pelan.
Sesampainya
kami di ruangan bawah, pria itu menawarkan kami duduk diatas kursi yang sudah
di sediakan cukup untuk empat orang saja, ruangan itu tidak banyak perabotan
hanya ada sofa udang, meja makan, dan kursi. “tadi kamu bilang, kalian bukan
dari desa ini melainkan kota Gloom Heaven betul?” Hara mengangguk.
Pria itu
menghela nafas “lagi-lagi wanita itu..” pria itu memijat dahi nya sendiri, kami
hanya terdiam tidak tau apa apa, “wanita siapa?” aku bertanya.
“Maaf..,sebelum
aku menjawab perkenalkan aku Chris, jika kalian bertanya siapa wanita itu maka
aku akan menjawabnya namun jika kalian sudah tak lagi mendengar kabar ku maka
aku tewas”
Pria itu
membuat kami bergidik ngeri, apa katanya tewas?
Ini mimpi
buruk.
“Di dalam
hutan tinggal seorang wanita paruh baya, ia tinggal sendirian, ia kehilangan
keluarga nya, aku tidak tahu pasti cerita kehidupannya namun sekarang ia
mengincar orang-orang dari luar sana untuk ia jadikan mainan baru nya”
“aku tidak
tahu bagaimana cara nya untuk mengambil jiwa dan raga manusia ke dalam dunia
ini, sebelum itu akan ku beritahu kalian.. Tidak berada di dunia kalian, ini
dunia yang berbeda mengerti? Sekarang satu-satu nya cara adalah kalian dengar
kan perintah ku dan lakukan tanpa bantahan jika kalian ingin keluar dari dunia
ini dan kembali ke dunia kalian.. Paham?”
Keesokan hari nya kami mengikuti arahan paman Chris, “pertama kalian cari kendaraan dalam bentuk apa pun, kalian harus bisa mengendalikannya sendiri, tidak ada cara lain” aku, Hara, dan Arsa memilih meminjam kuda petinggi desa lagi kali ini dengan gerobak di belakang nya setidaknya ini bisa untuk kami bertiga dengan Arsa pengemudi nya.
“Hei.. Aku percaya kan kuda ini pada mu, jangan
menabrak lagi “ kata ku pelan melihat Arsa diatas kuda nya “tenang aja Ra,
percaya pada ku, kamu juga Ara” Arsa menunjukkan senyum percaya diri nya.
Aku mengingat kembali perkataan Chris “kedua kalian harus mempersiapkan banyak perbekalan dan juga peralatan yang mampu untuk di bawa bertarung, entah apa yang akan kalian temukan kalian harus selalu bersiap.”
Perbekalan dan peralatan juga sudah kami siap kan dengan bantuan petinggi, bahkan sebelum kami pergi kami mampir ke makam Heena.
“Ketiga hadapilah rintangan di depan kalian dan
jangan pernah takut mengambil keputusan kalian harus siap berkorban demi teman
kalian sendiri, lalu carilah sebuah askara, sinar terpancar bagai cahaya
lembut. Askara akan membawa kalian kembali, paham!?”
Kami bersiap
untuk petualangan ini, setelah pamit dengan Chris dan juga petinggi, Arsa
melecutkan tali nya dan kuda mulai melakukan ke arah hutan dengan cepat,
petualangan ini baru akan di mulai.
“WOAAAAH
ARSA!!” aku dan Hara berteriak di belakang karena kuda yang di bawa Arsa
terlalu cepat, “PELAN KAN ATAU KAMU AKU LEMPAR DARI KUDA!” Arsa tertawa melawan
deru angin lalu menekankan kecepatan kuda nya “panik ya? Hufft tenang aja guys
aku udah bisa mengendarai kuda secara mendadak” jawab Arsa dengan nada
sombong.
“mana bisa
begitu!”
“memang kamu
belajar dari mana Sa?” tanya Hara, “dari melihat penunggang kuda yang lewat di
jalanan kemarin saat kita keliling desa”
“bohong!”
“ya sudah
kalau tidak percaya Ra” Arsa mengangkat bahu nya main-main dan mengejek,
“kalian berdua sudah lah, kita sedang di alam bebas jangan mengundang hewan
buas kemari” kata Hara lembut namun tetap tegas. “baik ibu Hara” kata Arsa
main-main, Hara hanya menghela nafas pasrah dengan tingkah aku dan Arsa yang
jarang akur.
Beberapa jam
perjalanan kami istirahat di suatu danau “seperti nya kita masih sangat jauh”
kata ku sambil melihat peta, Crish memberikan peta ini sebelum kami berangkat,
Arsa merebut peta itu dari ku dengan cepat “kamu benar, waah sepertinya kita
harus tinggal di dekat danau ini dulu” aku menahan amarah ku.
“ugh iya!”
kata ku kesal dan aku langsung berjalan ke arah danau melihat hamparan air yang
luas yang jernih bagaikan cermin yang memantulkan banyak sekali bayangan di
dalam nya, Arsa dengan cepat melompat ke dalam danau dan itu membuat ku kaget
dan basah karena cipratan dari lompatan nya “Arsa!!” aku yang tidak terima ikut
ikutan masuk ke danau hanya untuk balas dendam “awas kamu!” Arsa tertawa dan ia
semakin iseng menciptakan air.
“Kalian gak
ajak aku? Aku kan juga mau main di air” kata Hara sambil berlari kecil, “awas
Ra!” Hara melompat masuk ke danau bagian dangkal bersama aku dan Arsa, kami
akhirnya tertawa dan bermain di sana sambil membersihkan debu dari tubuh kami
masing-masing.
Kami
berganti pakaian di balik batu besar aku dan Hara saling menjaga, lalu
dilanjutkan dengan Arsa, kami memakai baju pemberian Chrish dan rasa nya baju
ini sangat ringan namun kuat, baju abad pertengahan yang sangat khas.
Di malam
hari kami tidur di dalam gerobak itu, karena ukurannya yang agak besar kami
bisa bertiga di sana dengan di batasi tas sebagai penghalang antara aku dan
Hara dengan Arsa.
Keesokan hari nya kami kembali lanjut berjalan setelah sarapan dan memberi kuda ini makan, “tujuan kita adalah mirror waterfall” Arsa melecut kuda nya dan kami kembali berpetualang, “wow ini pasti jadi perjalanan liburan sekolah terbaik yang pernah ada!” kata Hara semangat “maaf Hara, aku tidak mau menghancurkan semangat mu tapi kita tidak tahu apa yang akan menanti kita di sana, entah itu bahaya atau bukan kita tetap harus waspada” aku bicara pelan.
Hara mengangguk setuju “um.. Guys?.... Wow! Agrata! Hara! Pegangan!” aku dan Hara sama kaget nya saat Arsa tiba-tiba membelokkan kuda nya ke arah timur dengan cepat.
Tidak lama setelah itu kuda berhenti “jangan bergerak Ra!” Arsa seperti tahu aku akan melakukan apa ia langsung memperingat kan ku “lalu aku melihat ke belakang ku itu ternyata jurang yang sangat dalam.
“Jangan bergerak, aku akan coba jalan perlahan” Arsa dengan pelan membuat kuda nya berjalan namun berbatuan mulai jatuh satu persatu “Ra... Gimana ini?” Hara terlihat pucat.
“Hara, Agrata, pegangan yang kuat, jangan dilepas” aku dan Hara mengikuti arahan Arsa, dan kemudian Arsa langsung melecut kudanya membuat gerobak ini kembali ke atas namun kabar buruk nya tebing ini runtuh satu persatu dan kami mau tidak mau harus mengambil jalan memutar dan cepat!
Kuda melesat cepat dan pinggiran tebing di belakang kami sudah mulai runtuh dan retak, Arsa mengambil belokan tajam ke jembatan batu dan dengan cepat melintasi jembatan sebelum jembatan ini ikutan roboh “Arsa cepat!!”
Aku panik karena jembatan di belakang mulai retak
dan panjang nya masih setengah lagi, Arsa berusaha untuk tetap secepat angin “uh
oh... Arsa cepat!!! Ada sesuatu di belakang sana yang mengejar kita!” Hara
berteriak mengalahkan suara angin yang menderu kencang “Astaga! Apalagi?!” Arsa
menyeimbangkan kecepatan nya.
“Apa...- apa..
Itu!!?” aku melihat hewan berbentuk serigala namun sebesar harimau, “Mereka
mengejar! Arsa! Berapa lama lagi?!” Hara berteriak “sedikit lagi!” dengan cepat
Arsa melewati jembatan batu itu namun hewan itu terus mengejar kami, “Agrata!
Hara! Kalian bisa pakai panah kan! Gunakan sekarang atau kita akan celaka!”
teriak Arsa melawan angin.
Aku dan Hara
mengambil panah dari tempat peralatan kami, panah ini kami ambil karena aku dan
Hara pernah belajar memanah saat kami masih kelas dasar dan sampai sekarang
“bidik yang benar! Dan bertahan lah sampai aku bisa mengakali pergerakan
mereka!” arahan Arsa.
Aku mengambil beberapa anak panah dan Hara juga begitu, aku membidik serigala itu namun karena guncangan jadi meleset, kali ini giliran Hara dan woosh anak panah itu melesat tepat di kaki serigala itu dan itu membuat nya terjatuh berguling.
Aku menembak kan anak panah ku dan mengenai kaki nya, serigala besar
itu jatuh satu persatu “Terima kasih kalian berdua” Arsa dengan cepat mengakali
sisa dari mereka Arsa berbelok tajam lalu menambah kecepatan nya agar serigala
itu tidak bisa mengejar mereka.
Aku dan Hara
menghela nafas “hewan apa itu tadi?” aku bertanya sambil mengambil nafas,
menenangkan diri “entah lah tapi sepertinya bukan hanya mereka yang akan kita
temui” Hara menjawab.
“bagaimana?
Kalian aman?” tanya Arsa, “aman” aku menjawab.
Perjalanan
terus berlanjut banyak rintangan yang kami hadapi namun masih banyak juga yang
belum kami ketahui, aku melihat peta dan sepertinya kami sudah tiba di The
darkness forest dan benar saja hutan ini benar-benar gelap, Arsa berhenti
sejenak “haruskah kita lewat hutan atau ada jalan lain?” aku memperhatikan peta
menggunakan lentera “hm ada satu jalan melewati padang bunga beracun?”
“nama nya Lily
Garden”
“bunga lily beracun?
What happen to this world” Arsa menepuk wajah nya tidak habis memikirkan
kemungkinan yang terjadi di dunia ini, kami akhirnya memilih melewati hutan
gelap tidak mau mengambil risiko akan keracunan dari bunga lily itu.
“Hanya
perasaan ku saja atau, ada sesuatu di dalam gelap ini yang mengikuti kita?” tanya
ku waspada dengan panah ku “aku harap hanya perasaan mu saja Ra” kata Hara juga
bersiap dengan segala kemungkinan.
Aku membakar
ujung anak panah ku dan menembak ke belakang kami namun tidak ada apa pun di
sejauh cahaya api itu melesat, Arsa yang sibuk berhati hati dengan cahaya yang
minim, ia mengelus kuda nya sambil berjaga jaga jika terjadi sesuatu.
Tiba-tiba
saja kuda itu meringkik seperti ada sesuatu di depannya, “ada apa Arsa?” tanya
Hara panik, “aku gak tahu Har...” Arsa melihat ke depan dengan menjulurkan
lentera menggunakan kayu panjang.
“Arsa! Arsa!
Cepat jalan!” aku melihat sesuatu yang besar melaju ke arah kami, tanpa
bertanya Arsa langsung melecut kuda nya dan kami melintasi hutan gelap ini
dengan berharap ada keberuntungan yang akan datang.
Aku menembakkan anak panah namun itu tidak mempan, makhluk itu seperti bayangan dan bermata hijau emerald, “makhluk apa lagi ini?” Hara mencoba membidik nya mengenai mata nya namun tetap saja nihil, ia tidak memiliki bentuk fisik dan hanya bayangan hitam yang besar.
Aku melempar nya menggunakan gumpalan kain yang aku bakar ke arah nya, dan itu tidak berpengaruh itu hanya akan membuat api nya padam tak bersisa.
“Arsa! Cepat!” Arsa terus melecut kuda nya, karena
kami tidak bisa mengalahkannya atau menghambat nya Arsa hanya dengan cepat
mengendalikan kuda nya. Setiba nya kami di tepi hutan makhluk itu menghilang dalam
kegelapan hutan.
“hampir
saja...” kami menghela nafas lega
“Ra apa kamu
udah bisa melihat peta?” tanya Arsa
“udah Sa..”
aku melihat peta dan kami akan segera tiba di suatu taman jamur “Mushforest
adalah tujuan kita selanjutnya”
Namun belum
5 menit berlalu hutan menjadi semakin gelap dan sepertinya ujung dari hutan ini
terasa lebih panjang dari pada saat kami masih di kejar oleh makhluk bayangan
tadi “hanya aku atau hutan ini rasanya lebih panjang dari sebelumnya...
Bukankah tadi kita sudah hampir sampai?” tanya Hara sambil melihat sekeliling.
“hey aku
tidak bisa melihat apa pun di depan sana!”
Arsa tiba-tiba berhenti dan kuda meringkik seperti ada sesuatu di depan sana “kenapa berhenti?” Arsa tanpa menjawab dengan cepat mengubah arah ke arah timur “woah! Ada apa?!” tanya ku berpegangan di sisi gerobak “pegangan saja yang erat!” Arsa berteriak mengalahkan suara angin, tiba-tiba saja aku merasakan hembusan angin membuat ku bergidik karena dinginnya angin menyentuh kulit ku.
“Apalagi ini?” Hara
merasakan dingin menusuk jari-jari nya, “Bertahan lah!” Arsa melecut kan kuda
nya agar lebih cepat dari sebelumnya namun angin dingin ini membuat tubuh kami
seakan akan membeku tidak bisa di gerakkan.
Sosok
bayangan itu melewati kami, mata emerald nya menyala nyala dalam kegelapan
hutan, sosok itu mengejar kami, semakin ia dekat semakin dingin.
Namun saat
sosok itu pergi lagi hawa menjadi hangat dan suhu tubuh ku kembali perlahan
begitu juga dengan Arsa dan Hara, “kalian baik-baik saja?” tanya Arsa membuat
kuda nya lebih cepat, aku dan Hara serentak menjawab ya.
Satu jam
sudah berlalu dari saat kami masuk ke dalam hutan dan kami belum juga mendekati
jalan keluar, kami bermalam di gua dekat lembah, dengan penerangan yang minim
dan sih yang mulai dingin kembali.
“ah! Kalau
begini kita bisa jatuh sakit!” gerutu Arsa sambil mencoba menyalakan api
menggunakan kayu dan batu, aku dan Hara hanya diam mencoba menghangatkan diri.
“sial” gusar
Arsa melempar kayu dan batu ke arah dinding gua. “Kita seharus nya tidak
mengambil jalur ini!”
“maaf.. Gara-gara aku-“ belum sempat aku menyelesaikan kalimat ku, Arsa menyela nya “bukan kamu Ra tidak usah menyalahkan diri mu” dia mengatakannya dengan pelan namun tetap terdengar marah karena situasi ini.
“Semuanya akan baik-baik saja,
kita pasti bisa keluar dari sini dan kembali ke rumah kita bersama orang tua
kita” Hara mencoba mencairkan suasana, ia selalu bisa melakukan ini Hara itu
seperti penerang bagi pertemanan kami ia selalu bisa mencairkan suasana dan
membuat semuanya terlihat baik-baik saja, sang cahaya lembut sebagai penengah
kegelapan.
Huh? Cahaya
di tengah kegelapan.
“Bayangan
itu takut cahaya bukan?” aku melihat Arsa dan Hara bergantian, “iya, lalu?”
tanya Arsa, “kita buat api dengan kain-kain yang di berikan Chris”
Arsa
lagi-lagi mencoba membuat api dari kayu dan batu itu dan setelah 10 kali
mencoba akhirnya percikan api muncul dan kayu terbakar, kami mendengar suara
teriakan setelahnya.
“Apa itu?”
Hara melihat keluar gua
“Abaikan
saja kita fokus membuat ini”
Hara mengangguk
dan membantuku mengeluarkan kain dari karung, dan menumpuk nya di atas gerobak,
kami menggulung nya di kayu dan membuatnya seperti obor, setelah kami membakar
semuanya Arsa sudah siap di atas kuda nya dan bersiap jika harus melesat lagi.
“sudah!”
Arsa dengan sigap melecut kuda nya dengan cepat dan kami melewati hutan, hawa
dingin mulai terasa saat kami melihat bayangan itu mengejar kami, namun karena
suhu obor di sekeliling kami ini membuat udara nya menjadi netral, aku dan Hara
melempar kan anak panah yang sudah di bakar.
Hutan di
penuhi api dan satu persatu ranting mulai terbakar begitu juga dengan pohonnya,
perlahan bayangan itu mulai pudar karena panas. Begitu juga dengan jalan keluar
hutan semakin terlihat diujung sana, hutan terbakar dan menggantikan gelap
dengan terang nya kobaran api.
Saat kami
berhasil melewati hutan ini hutan terlihat lebih cerah dan terang berbeda saat
kami di dalam sana, namun api yang tadinya membakar sekarang sudah hilang,
Sungguh The
darkness forest kegelapan yang 5idak pernah pudar dan tidak ada yang tahu
apa yang terjadi di dalam sana, siapa bayangan itu, dan apa yang ia incar dari
kami.
Ternyata kami di hutan itu sudah seharian, karena gelap dan tidak ada cahaya sama sekali kami tidak tahu waktu dan tidak merasa mengantuk, setelah 3 mil dari hutan kami akhirnya tiba di suatu lapangan rumput yang luas, kami berhenti di sana untuk beristirahat.
Arsa dengan tanpa tenaga menjatuhkan diri nya di atas rumput
“hah.. Ini melelahkan , aku mengantuk” Arsa memejamkan mata nya dan tidur di
sana, aku dan Hara turun dari gerobak dan duduk di atas rumput dan hei ini
lembut tidak tajam padahal seperti rumput jarum.
“Kita di
mana sekarang Ra?” Hara melihat ku yang membuka peta “sepertinya kita di The
Trava Zemli”
“Apa
artinya?” tanya Hara sambil berbaring di rumput “entahlah sepertinya ini bahasa
rusia aku tidak mengetahui nya, mungkin padang rumput jika dilihat dari
tempatnya” aku mengikuti Hara yang berbaring di rumput, “dia cepat sekali tidur
nya” aku mendelik ke arah Arsa.
“Aku dengar
ya Ra” kata Arsa yang masih menutup mata nya dengan lengannya.
Kami
tertidur di sana dan saat kami bangun hari sudah malam “ya ampun berapa lama
kita tidur?” aku menggosok mata ku.
“delapan
jam?” kata Arsa santai.
“apakah kita
akan bermalam disini atau lanjut jalan?” tanya Hara, “tidur saja lah” Arsa
menjatuhkan diri nya lagi dan kembali tidur, “astaga dia itu...” aku melirik ke
arah Arsa.
Aku dan Hara
memutuskan untuk berjaga bergantian berjaga jaga jika ada hewan buas atau
semacamnya, aku mendapat giliran terakhir berjaga, aku melihat indah nya
sunrise di tempat ini.
Cahaya
lembut...
Menyinari
wajah ku...
Dan hangat..
“Kamu tidak
tidur Ra?” Arsa terbangun dari tidur nya “aku sudah tidur, aku hanya berjaga
disini” aku menepuk tempat di sebelah ku
“bagus ya?”
Arsa beranjak dari tempatnya dan duduk di sebelah ku, aku mengangguk pelan.
“Kalian
tidak mengajak ku?” Hara pun juga terbangun dan ikut duduk di sebelah ku.
Aku hanya
terkekeh mendengar pertanyaan Hara, “kalian mau berduaan?” tanya Hara iseng,
tawa ku pudar dan aku melotot ke arah Hara.
“Apa??”
tanya Hara tidak terima, aku mendengus sebal, ah pertanyaan itu merusak pagi
ku, “Agrata salah tingkah?” Arsa melihat ke arah ku.
Aku memukul
Arsa tanpa bicara dan kembali melihat sunrise, “aku hanya bertanya” Arsa
tidak terima. “Terus begini ya.. Jangan pergi” Hara mengatakannya dengan pelan.
Sebelum
berangkat kami sarapan terlebih dahulu dan tibalah kami di The mushforest,
“oh astaga....” Arsa mendongak kan kepala nya melihat jamur yang begitu besar
dan tinggi. Di hutan jamur ini kami menemukan banyak sekali jamur yang memiliki
ukuran jauh berkali lipat dari dunia kami.
Sejauh ini
perjalanan kami sudah hampir mencapai 1 minggu, sepertinya kami sudah di
nyatakan sebagai orang hilang di kota kami. Sudah banyak lokasi yang kami
kunjungi hari demi hari berganti dan kami tak percaya apa yang kami lihat.
“kita...
Hanya memutar?” tanya Arsa melihat desa Zayira
Namun saat
kami memasuki desa, tidak ada penduduk di sana ini bahkan lebih mirip desa
mati, dan kerajaannya? Kami benar-benar tidak bisa berkata kata melihat
kerajaan yang begitu megah sekarang hanya lah puing-puing bangunan.
“Apa yang
terjadi disini?”
Chris??!
Aku tanpa
bertanya berlari menuju kafe Chris “Ra!” Arsa dan Hara mengejar ku, dan ya
ampun.. Chris..
Aku melihat
Chris dengan wajah nya yang pucat kehabisan darah
“Oh..
Astaga” Arsa tak percaya yang ia lihat, Hara yang memiliki ketakutan dengan
mayat menutup pandangannya di balik ku dan mata nya berkaca kaca.
Namun tidak
lama sosok petinggi desa muncul dari dalam kafe tepatnya dari ruang rahasia
Chris dan kaget melihat kami bertiga, “k-kalian?! Kalian selamat?? Kenapa
kalian kembali?! Ya ampun ini bencana...” petinggi itu tanpa basa basi langsung
menyuruh kami masuk ke dalam dan ia menjelaskan semuanya.
Ia mengatakan jika setelah kami pergi desa dilanda bencana yang di bawa oleh si wanita yang membawa kami kemari, ia mengirim energi jahat dan menghasut beberapa penduduk dengan janji akan memberi mereka kekayaan yang berlimpah.
Karena gelap mata mereka membuat kerusuhan di desa dan menghabisi beberapa orang, wanita itu mendatangi langsung Chris dengan alasan Chris telah memberi tahu kami apa yang terjadi di desa ini dan cara bagaimana kami keluar.
Ia menghabisi Chris dengan melukai nya dan mengirim tanaman rambat yang akan menghisap darah nya, Chris mati di saat kami pergi 1 hari setelah nya.
Petinggi bisa selamat karena ia melarikan diri bersama beberapa penduduk dan bersembunyi di ruang rahasia Chris namun di saat tanaman rambat wanita itu masuk dari sela-sela ruangan dan menangkap sisa penduduk.
Petinggi berusaha dan menghalangi semua rambat tetapi hal itu tak berguna banyak dan malah membuat tanaman semakin agresif membawa penduduk ke atas dan wanita itu menghabisi mereka.
Dan hal yang paling mengejutkannya adalah ini sudah 3 minggu sejak kami pergi, sedangkan kami merasa baru bepergian selama hampir 1 minggu, tapi bagaimana bisa. Bahkan keluarga kerajaan sudah mencoba namun karena serangan tiba-tiba raja, ratu, dan putri terpaksa mengungsi ke kerajaan tetangga di bagian utara sana.
“Apa yang
harus kami lakukan? Kenapa wanita itu mengincar kami? Dan kenapa ia melakukan
ini?” aku dengan cepat bertanya segala yang terlintas di kepala ku
Petinggi itu
hanya diam melihat ku sejenak lalu angkat bicara “aku tidak bisa memberitahu mu
nak... Tapi hanya satu yang kalian harus tahu, Chris orang ini sudah berkorban
untuk menyelamatkan kalian begitu juga dengan Heena ia juga membantu kalian
karena itu ia di bakar oleh sang wanita itu di saat nak Agrata dan nak Arsa
pergi”
Aku menatap
tak percaya.
“Nak Arsa..
Chris percayakan pedang itu kepada mu, kamu akan melewati hal yang sulit di
mana kamu harus memilih pergi atau membantu teman mu, kamu kekuatan di tim ini
karena itu jagalah tim mu sendiri”
“Nak
Agrata.. Dan nak Hara.. Chris juga percaya kan panah itu untuk kalian berdua,
itu bukan panah biasa, panah itu akan
“Nak
Agrata.. Dan nak Hara.. Chris juga percaya kan panah itu untuk kalian berdua,
itu bukan panah biasa, panah itu sebenarnya sangat kuat, jika kalian
mengarahkannya dengan benar itu akan jadi sangat mematikan”
“ingatlah
tujuan kalian hanya satu.. Carilah Aksara dan kembali lah ke dunia kalian,
jangan pernah melihat ke belakang setelah kalian menemukan Aksara”
Kami
mendengar baik-baik perkataan petinggi
“Aksara itu
siapa?” tanya Hara
Petinggi itu
tersenyum
“Aksara
bukanlah nama seseorang melainkan cahaya, Aksara harapan kalian terakhir untuk
kembali, jika kalian tidak bisa menemukannya maka tidak ada jalan untuk
kembali” petinggi menghela nafas dan menatap kami bertiga.
“Hanya
saja... Berhati hati lah.. Wanita itu sangat berbahaya”
Malam hari
nya kami tidur di ruang rahasia Chris bersama petinggi itu. Keesokan hari nya
petinggi itu memberi tahu lokasi letak Aksara akan muncul dan tanpa basa basi
kami segera ke sana.
“ini bawa
lah ini” petinggi itu memberi Arsa kalung dengan batu emerald yang sudah di
ukir “ini akan membantu pencarian Askara akan berada di mana” Arsa mengangguk
Kami dalam perjalanan menuju silas, salam satu hutan di Zayira yang mana Askara akan muncul di sana dan menghilang saat fajar tiba, aku melihat ke arah kalung Arsa yang mulai bercahaya saat kami mulai memasuki hutan.
Hutan bergemuruh tanpa
kami tahu tanaman di sana bergerak, banyak tanaman yang memiliki bentuk yang
aneh. “Arsa hati-hati!” Hara melempar anak panah nya ke arah tanaman rambat
yang muncul dari arah samping, aku menembak dari arah belakang.
Kalung Arsa
semakin bercahaya, “kita semakin dekat!” namun setelah itu kuda yang
ditunggangi Arsa di tembak oleh panah dan itu membuat kami terguncang dan jatuh
ke tanah “ah!”
Badan ku
menabrak batang pohon, Hara terhempas ke tanah, dan Arsa hampir mengenai kayu
yang tajam “h-hampir saja” Arsa cepat menjauh dari sana dan menghela nafas
lega, Hara perlahan bangkit sambil membersihkan tanah dari wajah dan tangannya,
aku mencoba bangun dan meluruskan badan ku. Namun karena hempasan itu jadi terasa sakit saat ku
gerakkan.
Sedangkan
kuda nya jatuh terkulai di tanah tak bergerak, Arsa yang melihat itu segera
menghampiri nya, mencoba membangunkan kuda nya namun tidak ada sedikit pun
gerakan
“astaga...
Kuda ini mati”
Arsa melihat
panah itu dan saat ia hendak mengambilnya panah lainnya muncul Arsa dengan
cepat menghindar “woah hampir saja..”
Kami bertiga
kembali berdiri dan menjadi waspada apa yang akan terjadi selanjutnya, aku dan
Hara mengambil panah kami dan bersiap, sedangkan Arsa mengambil pedang nya,
pedang itu bersinar begitu juga dengan anak-anak panah aku dan Hara.
Sosok wanita
itu muncul dari arah timur, ia menggunakan jubah hitam perawakannya seperti
wanita 30 tahun. “oh ya ampun.... Itu dia” Hara bergidik ngeri.
Wanita itu
tampak tersenyum ke arah kami, dan dia dengan cepat menyuruh akar rambat di
hutan ini membantu nya, aku dan Hara menembak ke arah tanaman rambat nya,
sedangkan Arsa mengayunkan pedang nya dengan mahir, bagaimana bisa?
Arsa itu
seseorang yang cepat tangkap oleh suatu hal, hanya dengan sekali melihat dan
mengingat nya, dan itu membuatnya mahir dalam hampir segala hal.
Wanita itu
tertawa dan ia menghentikan tanamannya lalu tertawa “kalian ini sangat naif,
sudahlah menyerah saja dan tinggal lah di sini bersama ku, aku akan
memperlakukan kalian seperti anak sendiri” wanita itu terkekeh pelan dan
menyeringai.
“Apa
sebenarnya mau mu?!” aku berteriak, wanita itu terkekeh “oh begitu kah cara
bicara pada wanita yang lebih tua dari mu? Dengan berteriak?” Wanita itu
menyeringai ke arah kami. Lalu wanita ini dengan cepat melilitkan kami dengan
akar rambat nya namun dengan cepat Arsa menebas semua akar itu termasuk menebas
milik ku dan Hara.
“Agrata..
Hara... Maaf kan aku, sedari kemarin aku hanya bisa diam dan membawa kalian
pergi sedangkan kalian berjuang melawan makhluk di sini sekarang izinkan aku
untuk bertarung bersama kalian” Arsa dengan terampil menebas semua tanaman
milik si wanita.
Wanita itu
tertawa dan semakin banyak menyebar tanaman ini dan beberapa tanaman lainnya
“kalian keras kepala sekali, padahal aku sudah bersusah payah untuk menangkap
kalian tapi sayang anak pembangkang harus di habisi”
Aku menembak
kan panah ku ke banyak tanaman bahkan panah ku sekarang sudah bermunculan api ,
sedangkan Hara panah mengeluarkan zat asam dari ujung anak panah, pedang Arsa
sekarang sudah berubah dengan api menyala terang menebas segala nya dan tibalah
saat kami dapat mencapai wanita itu, seketika tubuh kami berhenti kedinginan
seakan aku akan mati kedinginan.
“Astaga”
tubuh ku kaku.
Wanita itu
tertawa “seharusnya kalian tidak usah bermain dengan ku..”
Namun belum
sempat ia bicara lagi Arsa melesat dan mengacungkan pedangnya ke arah wanita
itu, dan Arsa berhasil menggores wajah nya walau hanya sedikit.
Wanita itu terlihat
sangat kaget, dan sekarang ia terlihat marah. Tanaman rambat kembali semakin
agresif, namun Arsa tidak terpengaruh ia berlari lari di antara rambat itu dan
melesat menuju wanita itu, namun saat Arsa sibuk dengan nya, Askara muncul di
tengah-tengah kami.
“A-askara”
kata ku sambil masih memanah.
“ayo cepat
Ra!” Hara mencoba berlari ke arah cahaya itu, “Arsa!” Hara berteriak.
Namun Arsa
yang sudah tersulut emosi hanya mencoba untuk melukai wanita itu, tanaman
rambat menangkap nya namun Arsa dengan cepat memotong semua tanaman rambat nya,
aku mengikuti Hara ke arah Askara, tanaman rambat itu sedang sibuk dengan Arsa.
“Arsa cepat
kesini!” Arsa melihat ke arah kami dan saat ia hendak berlari, tanaman rambat
menangkap Arsa, ia mencoba melepaskan diri.
“Agghhh!
Lepaskan aku!!” Arsa memberontak
Lalu satu
anak panah menancap di tanaman rambat yang membuat tanaman itu mati, petinggi
itu di sana ia mengejar kami sampai ke sini dan terus menarik panah nya.
“kalian cepat lah pergi, biarkan aku di sini”
Arsa dengan
cepat segera pergi tanpa membuang waktu, kami melihat petinggi itu menyerang
wanita itu. “pria tua menyebalkan” wanita itu menangkap petinggi.
“Cepat!”
Aku, Hara
dan Arsa dengan cepat melewati cahaya itu, wanita itu berteriak marah.
Kami
melewati cahaya seperti lorong tanpa batas, namun dalam sekejap kami tiba di
dalam perpustakaan ini lagi, baju kami kembali normal, dan semua buku terlihat
seperti tidak pernah terjadi badai, semua tersusun rapi.
“a..apakah
sudah selesai? Bagaimana petinggi itu? Wanita nya?” Hara bertanya.
“Kalian
baik-baik saja?” Arsa melihat kami
“bagaimana
nasib kita di sini? Kita sudah berminggu-minggu hilang bukan?” tanya ku
“Sebaiknya
kita cepat keluar dari sini” Arsa berjalan menuju pintu keluar, aku dan Hara
mengikuti, saat keluar kami melihat ibu Arsa di sana dengan mobil nya.
“Ibu!” Arsa
memanggil
Kami semua
berlari ke arah nya.
“kalian
kenapa? Kok.. Pucat begitu? Ada hantu?” ibu Arsa tertawa kecil melihat kami,
“bukannya kami hilang berminggu-minggu?” Hara bertanya.
“hah? Apa
yang kamu katakan Hara? Kalian baru saja pergi 3 jam yang lalu” ibu Arsa
tersenyum “kalian bermimpi?” ibu Arsa melihat wajah bingung kami.
3
jam!?
“sudah lah
ayo masuk, ibu buat kan sup untuk kalian di rumah” ibu Arsa memasuki mobil dan
menunggu kami, kami hanya menuruti nya dan ikut masuk.
“Woah ini
aneh sekali” bisik Arsa
Saat aku
melihat ke perpustakaan badan ku merinding melihat sosok wanita itu di sana, di
jendela sedang melihat ke arah kami menyeringai ke arah ku. Aku melihat nya
sampai kami jauh dari lokasi perpustakaan itu.
“bagaimana
perpustakaannya? Apa yang kalian temukan di sana?”
“banyak bu,
tanaman rambat, hutan, dan lain nya” jawab Arsa santai
“Arsa sudah
bisa menunggangi kuda!” jawab Hara sambil tertawa.
Ibu Arsa
terkekeh mendengar jawaban kami.
Ini adalah libur
sekolah tergila yang pernah aku lakukan! Ugh aku berharap tidak pernah kembali
ke sana, tapi siapa wanita itu dan kenapa ia melakukannya bagaimana nasib desa,
kerajaan, dan petinggi itu.. Huff terlalu banyak pertanyaan, sudahlah
terpenting kami tidak di nyatakan sebagai orang hilang dan kami selamat dari
buku itu.. Buku? Iya buku itu membawa kami ke negeri Zayira.
Semoga besok
adalah hari yang baik untuk memulai sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar