Bayangan Waktu
Terkadang
manusia melupakan apa pun hanya untuk mengejar dunia, tanpa mereka sadari ada
seseorang yang menunggu nya untuk kembali, namun waktu berlalu begitu cepat melahap
segala nya.
Seperti
hari lainnya Raina sibuk dengan pekerjaannya, ia hampir tidak ada waktu untuk
beristirahat. Raina seorang wanita karier 30 tahun, yang merantau dari kota
lain, ia tinggal di sebuah apartemen sederhana dekat dengan kantor nya. Sudah tujuh
tahun sejak Raina meninggalkan rumah lama yang ia tempati bersama orang tua
nya. Raina menatap pemandangan kota dari balkon kamar, langit malam membentang
sejauh mata memandang, kota yang padat, bintang-bintang seakan enggan untuk
menampakkan diri.
“Aku kangen ayah dan ibu..”
Raina
menatap langit malam, angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, rambut nya yang
terurai tertiup lembut oleh angin.
Dalam
keheningan, suara kendaraan terdengar jelas, keramaian di pusat kota yang tak
ada henti nya. Malam sudah terlalu pekat untuk Raina yang masih melamun. Kepala
nya terlalu kecil untuk menampung beribu masalah.
Keributan
yang tak ada henti nya, ia hanya ingin pulang untuk menemui ayah dan ibu nya,
namun pekerjaan menjadi salah satu halangan untuk Raina pulang. Ibu nya tidak
pernah membalas pesan atau pun menerima telepon dari nya lima tahun terakhir. Itu
membuat Raina semakin gundah akan keadaan orang tua nya di sana. Raina yang tak
memiliki waktu untuk pulang hanya bisa menunggu.
Di
tengah lamunan nya, telepon berdering. Lagi-lagi itu bukan seseorang yang ia
tunggu melainkan atasannya.
“Selamat
malam Raina, maaf sebelumnya saya ingin menyampaikan jika lima hari ke depan
kita akan melakukan perjalanan bisnis dengan klien, saya harap Ibu dapat
mempersiapkan diri untuk perjalanan ini dan jangan lupa berkas-berkas penting jangan
sampai tertinggal Raina”
Raina
diam sejenak, ini tidak seperti yang ia harapkan tadinya ia ingin meminta cuti
untuk mengunjungi orang tua nya, namun sepertinya ini bukan saat yang tepat
untuk meminta itu.
“Baik
Pak, saya akan mempersiapkan semua nya”
“Kita
akan berangkat besok pagi, jam tujuh sudah harus berada di kantor”
“Baik
pak”
Raina
menghempaskan diri nya di sofa dan menghela nafas panjang. Menatap
langit-langit apartemen. Ia mencoba menelepon ibu nya. Namun nihil, tak ada
jawaban, tak ada balasan.
Keesokan
hari nya, Raina tiba di kantor tiga puluh menit lebih awal dari jam
keberangkatan, karena ia harus memilah dokumen yang akan di bawa nanti. Selama
perjalanan berlangsung Raina kebanyakan melamun. Ia hanya akan berbicara jika
sedang dalam situasi penting bersama klien ataupun atasannya.
Kini
Raina sedang beristirahat di teras penginapan sembari menikmati suasana pantai
yang tenang, tanpa ia sadari Arya atasannya, menghampiri dan duduk tepat di
sebelah nya.
“Kamu
kenapa Raina?” Arya mengeluarkan rokok, dan membakar filter nya.
Raina
menghela nafas pelan terdiam sejenak. “Saya mau pulang pak, tapi pekerjaan saya
masih banyak”
“Santai
saja Raina, ini bukan jam kerja anggap saja saya teman kamu agar tidak canggung,
oh iya apakah ada masalah?” Arya kembali menghisap rokoknya.
“Eh
oke...Arya” jawab Raina ragu karena tidak terbiasa “saya ingin mengambil cuti,
apakah boleh?” Raina melanjutkan ucapan nya, sembari melihat Arya dengan wajah
sendu.
“Kamu
tidak bisa mengambil cuti di tengah-tengah proyek Raina, saya tidak akan
mengizinkan itu”
“Kenapa
kamu terlihat sendu?” lanjut nya ketika melihat ekspresi Raina.
Raina
perlahan menceritakan kekhawatiran nya dan keinginannya untuk kembali ke rumah
lama nya, bersama kedua orang tua Raina.
Arya
memalingkan wajah sembari melempar rokok nya ke lantai lalu menginjak sisa
rokok. “Pulang lah, barangkali masih ada kesempatan sebelum terlambat”
Kata-kata
Arya barusan membuat Raina merasa bersalah karena sudah lama tidak mengunjungi
orang tua nya, apakah ini benar-benar belum terlambat..?
“Jangan
seperti saya Raina...” Arya tersenyum pahit, “Saya meninggalkan Ibu saya di
panti jompo hanya untuk mengejar dunia tanpa saya sadari semua sudah terlambat,
Ibu pergi, pergi dan tak kan kembali” Keheningan memberi banyak makna akan rasa
kehilangan.
Semilir
angin menerpa wajahnya Raina dan Arya, tak lama lagi langit akan berubah
menjadi jingga, menandakan hari akan segera berakhir dalam hitungan jam.
Keesokan
pagi nya, Raina segera izin ke Arya untuk kembali ke rumah lama nya, setibanya
di rumah ia melihat kedua orang tua nya bersantai di halaman, terlihat jelas
keduanya sudah berusia, “Ayah.... Ibu...” Raina segera memeluk Ibu nya dan
berganti ke ayah nya, namun tak ada reaksi dari kedua nya, mereka hanya
tersenyum dan mengajak Raina masuk.
“Ayah...
Ibu... Maafkan aku, aku sudah lama meninggalkan kalian, aku benar-benar minta
maaf” Raina menangis di hadapan orang tua nya.
Ibu
tersenyum “Tidak apa-apa nak....” sembari memeluk Raina dan menepuk kepala nya.
“Kami juga merindukan kamu” sahut Ayah. Tiga hari setelah pertemuan hangat
namun juga dingin itu, Raina merasa ada yang aneh dari orang tua nya.
Suatu
malam ia melihat Ibu dan Ayah nya sedang melihat album lama dan Raina
menghampiri mereka, “itu foto lama ya Bu?” Ibu menoleh ke arah Raina dan
tersenyum “Iya nak... Ini foto anak Ibu” kebingungan menyelimuti Raina. Ia
melihat itu foto dirinya saat berusia 18 tahun.
“Ibu...
Itu aku kan?”
Ibu
hanya diam dan memandangi lembar demi lembar, “Kami merindukan anak kami....dia
sudah lama tidak pulang nak..” Ayah melihat ke wajah Ibu lalu menoleh ke arah
ku. Jantung Raina berdebar setelah ayah nya berkata seperti itu padahal yang
berdiri di hadapannya adalah anak nya.
“A–
aku anak kalian Ibu... Ayah...” ucapan Raina hanya membuat Ibu dan Ayah nya
bingung, yang berada di ingatan mereka hanya lah Raina berumur 18 tahun bukan
Raina dewasa seperti sekarang ini.
Raina
menangis sesenggukan menerima kenyataan bahwa kedua orang tua nya sudah tak
lagi mengingat dirinya.
Semua
terlambat.
Ia terlalu lama pergi.
Waktu hanya menjalankan tugas nya, selalu berjalan tanpa henti, mengikis satu persatu ingatan yang perlahan akan memudar. Kini tersisa bayangan seorang anak yang tak lagi kecil. Di ingatan yang mulai menua.
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋
Halooo guys... Ini salah satu cerpen orisinal ku yang lolos di event nulis bareng beraninulis.id di buku antologi. Jadi buat kalian yang penasaran gimana cerpen keren dan merik lainnya, atau kalian ingin mengikuti lomba seperti ini boleh banget nih mampir ke akun Instagram beraninulis.id ⋆˚𝜗𝜚˚⋆
Atau bisa langsung ke penerbit nya ya!
See you
-Alze⋆. 𐙚 ˚
Tidak ada komentar:
Posting Komentar