Selasa, 23 Juni 2026

Cerpen: Bayangan Waktu - karya lolos event BeraniNulis.Id batch 31

 Bayangan Waktu

Terkadang manusia melupakan apa pun hanya untuk mengejar dunia, tanpa mereka sadari ada seseorang yang menunggu nya untuk kembali, namun waktu berlalu begitu cepat melahap segala nya.

Seperti hari lainnya Raina sibuk dengan pekerjaannya, ia hampir tidak ada waktu untuk beristirahat. Raina seorang wanita karier 30 tahun, yang merantau dari kota lain, ia tinggal di sebuah apartemen sederhana dekat dengan kantor nya. Sudah tujuh tahun sejak Raina meninggalkan rumah lama yang ia tempati bersama orang tua nya. Raina menatap pemandangan kota dari balkon kamar, langit malam membentang sejauh mata memandang, kota yang padat, bintang-bintang seakan enggan untuk menampakkan diri.

“Aku kangen ayah dan ibu..”

Raina menatap langit malam, angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, rambut nya yang terurai tertiup lembut oleh angin.

Dalam keheningan, suara kendaraan terdengar jelas, keramaian di pusat kota yang tak ada henti nya. Malam sudah terlalu pekat untuk Raina yang masih melamun. Kepala nya terlalu kecil untuk menampung beribu masalah.

Keributan yang tak ada henti nya, ia hanya ingin pulang untuk menemui ayah dan ibu nya, namun pekerjaan menjadi salah satu halangan untuk Raina pulang. Ibu nya tidak pernah membalas pesan atau pun menerima telepon dari nya lima tahun terakhir. Itu membuat Raina semakin gundah akan keadaan orang tua nya di sana. Raina yang tak memiliki waktu untuk pulang hanya bisa menunggu.

Di tengah lamunan nya, telepon berdering. Lagi-lagi itu bukan seseorang yang ia tunggu melainkan atasannya.

“Selamat malam Raina, maaf sebelumnya saya ingin menyampaikan jika lima hari ke depan kita akan melakukan perjalanan bisnis dengan klien, saya harap Ibu dapat mempersiapkan diri untuk perjalanan ini dan jangan lupa berkas-berkas penting jangan sampai tertinggal Raina”

Raina diam sejenak, ini tidak seperti yang ia harapkan tadinya ia ingin meminta cuti untuk mengunjungi orang tua nya, namun sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk meminta itu.

“Baik Pak, saya akan mempersiapkan semua nya”

“Kita akan berangkat besok pagi, jam tujuh sudah harus berada di kantor”

“Baik pak”

Raina menghempaskan diri nya di sofa dan menghela nafas panjang. Menatap langit-langit apartemen. Ia mencoba menelepon ibu nya. Namun nihil, tak ada jawaban, tak ada balasan.

Keesokan hari nya, Raina tiba di kantor tiga puluh menit lebih awal dari jam keberangkatan, karena ia harus memilah dokumen yang akan di bawa nanti. Selama perjalanan berlangsung Raina kebanyakan melamun. Ia hanya akan berbicara jika sedang dalam situasi penting bersama klien ataupun atasannya.

Kini Raina sedang beristirahat di teras penginapan sembari menikmati suasana pantai yang tenang, tanpa ia sadari Arya atasannya, menghampiri dan duduk tepat di sebelah nya.

“Kamu kenapa Raina?” Arya mengeluarkan rokok, dan membakar filter nya.

Raina menghela nafas pelan terdiam sejenak. “Saya mau pulang pak, tapi pekerjaan saya masih banyak”

“Santai saja Raina, ini bukan jam kerja anggap saja saya teman kamu agar tidak canggung, oh iya apakah ada masalah?” Arya kembali menghisap rokoknya.

“Eh oke...Arya” jawab Raina ragu karena tidak terbiasa “saya ingin mengambil cuti, apakah boleh?” Raina melanjutkan ucapan nya, sembari melihat Arya dengan wajah sendu.

“Kamu tidak bisa mengambil cuti di tengah-tengah proyek Raina, saya tidak akan mengizinkan itu”

“Kenapa kamu terlihat sendu?” lanjut nya ketika melihat ekspresi Raina.

Raina perlahan menceritakan kekhawatiran nya dan keinginannya untuk kembali ke rumah lama nya, bersama kedua orang tua Raina.

Arya memalingkan wajah sembari melempar rokok nya ke lantai lalu menginjak sisa rokok. “Pulang lah, barangkali masih ada kesempatan sebelum terlambat”

Kata-kata Arya barusan membuat Raina merasa bersalah karena sudah lama tidak mengunjungi orang tua nya, apakah ini benar-benar belum terlambat..?

“Jangan seperti saya Raina...” Arya tersenyum pahit, “Saya meninggalkan Ibu saya di panti jompo hanya untuk mengejar dunia tanpa saya sadari semua sudah terlambat, Ibu pergi, pergi dan tak kan kembali” Keheningan memberi banyak makna akan rasa kehilangan.

Semilir angin menerpa wajahnya Raina dan Arya, tak lama lagi langit akan berubah menjadi jingga, menandakan hari akan segera berakhir dalam hitungan jam.

Keesokan pagi nya, Raina segera izin ke Arya untuk kembali ke rumah lama nya, setibanya di rumah ia melihat kedua orang tua nya bersantai di halaman, terlihat jelas keduanya sudah berusia, “Ayah.... Ibu...” Raina segera memeluk Ibu nya dan berganti ke ayah nya, namun tak ada reaksi dari kedua nya, mereka hanya tersenyum dan mengajak Raina masuk.

“Ayah... Ibu... Maafkan aku, aku sudah lama meninggalkan kalian, aku benar-benar minta maaf” Raina menangis di hadapan orang tua nya.

Ibu tersenyum “Tidak apa-apa nak....” sembari memeluk Raina dan menepuk kepala nya. “Kami juga merindukan kamu” sahut Ayah. Tiga hari setelah pertemuan hangat namun juga dingin itu, Raina merasa ada yang aneh dari orang tua nya.

Suatu malam ia melihat Ibu dan Ayah nya sedang melihat album lama dan Raina menghampiri mereka, “itu foto lama ya Bu?” Ibu menoleh ke arah Raina dan tersenyum “Iya nak... Ini foto anak Ibu” kebingungan menyelimuti Raina. Ia melihat itu foto dirinya saat berusia 18 tahun.

“Ibu... Itu aku kan?”

Ibu hanya diam dan memandangi lembar demi lembar, “Kami merindukan anak kami....dia sudah lama tidak pulang nak..” Ayah melihat ke wajah Ibu lalu menoleh ke arah ku. Jantung Raina berdebar setelah ayah nya berkata seperti itu padahal yang berdiri di hadapannya adalah anak nya.

“A– aku anak kalian Ibu... Ayah...” ucapan Raina hanya membuat Ibu dan Ayah nya bingung, yang berada di ingatan mereka hanya lah Raina berumur 18 tahun bukan Raina dewasa seperti sekarang ini.

Raina menangis sesenggukan menerima kenyataan bahwa kedua orang tua nya sudah tak lagi mengingat dirinya.

Semua terlambat.

Ia terlalu lama pergi.

Waktu hanya menjalankan tugas nya, selalu berjalan tanpa henti, mengikis satu persatu ingatan yang perlahan akan memudar. Kini tersisa bayangan seorang anak yang tak lagi kecil. Di ingatan yang mulai menua.

🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋

Halooo guys... Ini salah satu cerpen orisinal ku yang lolos di event nulis bareng beraninulis.id di buku antologi. Jadi buat kalian yang penasaran gimana cerpen keren dan merik lainnya, atau kalian ingin mengikuti lomba seperti ini boleh banget nih mampir ke akun Instagram beraninulis.id ⋆˚𝜗𝜚˚⋆

KLIK LINK NYA DISINI YA! 

Atau bisa langsung ke penerbit nya ya! 

KLIK DISINI! 

See you

-Alze⋆. 𐙚 ˚

Tidak ada komentar:

Posting Komentar