Hujan yang tak pernah usai
Hujan
tiada henti sedari pagi, aku terjebak dalam masa lalu, di mana hari ini
bertepatan dengan hari di mana kamu pergi.
Suasana perpustakaan yang tenang membawaku ke hari itu, lagi dan lagi. Aku tidak bisa melupakan nya.
Aku benci hujan.
“Berhenti
melamun... Nanti kerasukan” aku tersadar dalam lamunanku, aku menoleh ke arah
seseorang di hadapan ku dengan senyum khas nya.
“Aku tidak
melamun, aku hanya berpikir” Tama menutup buku nya dan sepenuh nya melihat ke
arahku. “Ayolah Zyan... Berhenti mengingat masa lalu, lebih baik kamu
membantuku mencari artikel untuk tugas kuliah ini”
“Aku ingin
segera pulang...” Tama meregangkan badannya. Sedari pagi kami sudah berada di
perpustakaan ini, untuk mencari materi tugas akhir.
“Hmm...
Aku mau beli minuman, kamu mau? Di warung depan” Tama beranjak dari kursi nya
dan menunjuk warung kecil di depan perpustakaan
“Kopi
saja.. Pakai gula” Tama mengacungkan jempol nya dan melangkah pergi.
Kini hanya
ada aku, hujan dan juga setumpuk buku, bau perpustakaan yang khas penuh dengan
buku tua. Aku dan Tama, kami sudah berteman sejak SMA, ia menjadi sahabat
karibku sejak hari pertama.
Sore ini,
rasa nya seperti di hari itu.
Kembali ke
masa lalu...
“Zyan!
Besok jangan lupa kerja kelompok! Kalau tidak datang aku tidak akan menulis
nama mu di tugas itu! Mengerti?” gadis itu mendongak ke arahku, lucu saja
melihat nya marah-marah padahal tinggi nya tidak seberapa.
Aku
menghela nafas pasrah “Iya aku datang, merepotkan sekali...” aku mengambil
tasku dan berjalan pergi meninggalkan gadis itu.
Dia itu
sangat bersemangat sekali dalam hal apa pun, aku hampir tidak bisa mengimbangi
nya karena aku bukan lah tipe orang yang punya banyak emosi. Aku tidak terlalu
suka mengeluarkan emosi begitu saja.
“Hah...
Hujan lagi” aku melihat ke atas, sepertinya langit sedang tidak bersahabat,
yang ada hanya awan hitam menyelimuti langit.
“Hei!
Kenapa? Terobos saja! Hujan bukan masalah kan?” Tama merangkul bahuku secara
tiba-tiba membuatku sedikit tersentak. “Bisakah kamu tidak mengejutkanku?” aku
melotot ke arah nya.
Tama tidak
menggubrisku sama sekali, ia hanya menganggap itu bukan masalah besar.
“Ayolah
lagi pula baju ini tidak akan di pakai lagi besok, jadi ayo kita lewati hujan
ini!” Tama tanpa menunggu jawabanku dengan cepat mendorongku keluar dari zona
kering dan kini aku basah kuyup.
“Tama?!”
aku melotot ke arah nya kesal.
“Sekarang
atau tidak selama nya, kawan. Nikmati masa SMA ini sebelum kamu menyesal tidak
melakukannya”
Aku
menggerutu, namun rasa kesalku memudar saat aku melihat gadis itu lagi, Runa.
“Kalian
ini tidak di kelas, tidak di luar, heboh sekali” Runa berdiri di ambang lorong
melihat aku dan Tama.
“Siapa
yang kamu maksud heboh heh?” aku merasa tersinggung karena ini semua ulah Tama,
jika tidak aku tidak akan sebasah ini.
“Seperti
nya ada yang kesal..” Tama menggodaku, ia tertawa melihat ekspresi kesalku.
“Kalian
cepat sini sebelum—” sebelum Runa menyelesaikan kalimat nya, petir menyambar
dengan nyaring. Aku segera kembali ke lorong, dan Tama mengikutiku. “apa nya
yang cepat pulang..” aku melotot ke arah Tama sebagai pelaku ini terjadi.
Tama hanya
menyengir mendengar gerutuku. “Bagaimana kita akan pulang sekarang...?” Runa
terlihat cemas, karena ini memang sudah hampir senja dan hujan tak kunjung
berhenti.
“Zyan?
Zyan!” aku tersadar sejenak dari pikiranku, dan melihat Tama dengan dua gelas
kopi di tangan nya. “huh? Sejak kapan kamu sampai?”
“Kamu
melamun kan apa sih? Serius sekali, aku sudah dari tadi memanggil mu” Tama
menaruh dua gelas kopi itu di atas meja.
“Ah...
Tidak, aku hanya teringat masa sekolah... Cuaca nya persis seperti saat itu.”
Tama
meneguk kopi nya “Terjebak di sekolah hingga malam?” aku mengangguk melihat
nya, dan aku ikut meminum kopiku.
“Ah...
Saat itu, aku jadi ingin kembali ke masa itu, dan ya aku juga tidak akan lupa
di saat aku menjadi nyamuk di antara kamu dan Runa” Tama terkekeh geli melihat
wajahku yang berubah cemberut.
“Diamlah..”
aku melempar penghapus ke arah nya.
“Hei?!” ia
refleks menghindar dan kini melotot ke arahku. “Kalian berdua diamlah! Ini
perpustakaan bukan tempat bermain” penjaga perpustakaan yang sedari tadi
membaca buku pun kini memarahi kami.
Waktu
berlalu, sudah hampir senja namun hujan tak kunjung berhenti, sekarang memang
musim hujan, bahkan di beberapa daerah sudah banjir karena hujan terus menerus.
“Hujan
itu... Menyimpan kenangan ya?” celetukanku membuat Tama yang sedari tadi
menjatuhkan wajah nya di meja kini melihatku. “Kenangan? Hujan? Kenapa?”
“Hujan
ini... Aku merindukan nya”
“Runa?”
Tama menegakkan kembali tubuh nya yang lelah. “ah tidak lupakan saja, aku hanya
asal bicara” Tama mengerutkan dahi nya tidak puas dengan ucapanku.
“Bicara
jangan setengah-setengah, hobi kamu menggantung ya? Suka sekali bercerita tapi
hanya setengah, tidak seru” Tama kembali menjatuhkan kepala nya di atas meja.
Aku
menghela nafas “Ayo pulang..” aku beranjak dari meja, berdiri menunggu Tama.
“Masih hujan”
“Lewati
saja” aku berjalan lebih dulu menuju pintu keluar perpustakaan.
“Kamu
yakin?” Tama mendongak melihatku yang sudah pergi, dan segera ia menyusul.
“Bukankah
kamu... Membenci hujan?”
“Ku rasa
sesekali tidak ada salah nya” aku tersenyum, mengikuti senyum khas Tama.
Kami
sampai di rumah masing-masing, aku menaruh semua barangku di atas meja belajar,
dan menjatuhkan diri di atas kasur.
Sejak
kehilangan.. Rasanya tidak lagi sama, aku tidak mengerti apa yang aku rasakan
saat ini, aku ingin marah, berteriak, menangis, lalu melupakan segala nya.
Aku benci
diriku.
Setelah
selesai mandi aku duduk di meja belajar, melihat catatan-catatan lama, aku
tidak sadar jika aku sering menulis. Sepertinya aku meluapkan semua nya dalam
bentuk tulisan. Aku melihat salah satu catatan dan membaca nya.
12
Desember 2023
Lagi-lagi
hari ini hujan, rasa nya retakan itu terbuka kembali. Retakan yang tak bisaku
obati. Rasa pedih dan kehilangan.
Jiwa
yang engkau ambil tak bisa lagi ku gapai...
Aku ingat
catatan ini, di mana saat itu hari terburuk bagiku, badai, angin kencang, dan
peristiwa yang tidak akan pernah aku lupakan.
Aku
menghempaskan diriku ke atas tempat tidur, menatap langit-langit dan memejamkan
mata.
“Zyan kamu
suka hujan tidak?” Runa mendongak ke arahku, karena sepertinya sebentar lagi
akan turun hujan, hampir setengah langit sudah ditutupi oleh awan hitam.
“Asal
tidak badai” aku melihat ke atas lalu menoleh ke Runa. “kenapa?”
Runa
menggeleng kan kepala nya “Hanya bertanya, aku suka hujan, rasanya tenang dan
damai. Aku sedari dulu ingin bermain di bawah hujan di lapangan yang luas
sekali! Tapi Ibu selalu melarangku... Katanya nanti sakit” raut wajah Runa
berubah cemberut.
Aku
tertawa kecil mendengar keluhannya “Ada baik nya kamu mendengarkan Ibu mu, bisa
bahaya kalau kamu bermain hujan nanti bisa hanyut”
“Kok bisa
hanyut?”
“Soalnya
kamu kecil, nanti mudah terbawa arus” aku tertawa melihat ekspresi cemberut nya
makin jelas.
“Sepertinya
seru sekali kalian berdua” goda Tama yang baru saja sampai. “Dari mana saja
kamu!? Ini sudah telat!” Runa langsung mengomel begitu melihat Tama.
“Hei...
Tenang! Kenapa tiba-tiba kesal? Kamu di apa in sama Zyan?” Tama mundur agar
tidak terkena pukulan Runa. “Zyan bilang aku akan hanyut terbawa arus jika
bermain hujan”
“Huh?
Kenapa bisa begitu?”
“Karena
Zyan bilang aku pendek” Tama tertawa lepas saat sampai ke bagian itu, dan Tama
dengan cepat menerima pukulan dari Runa.
Aku hanya
melihat kedua orang itu, Runa menghajar Tama, dan Tama berusaha melindungi diri
nya dari pukulan itu. Aku tersenyum geli melihat nya, namun dengan cepat aku
menoleh untuk menyembunyikan ekspresiku.
“Zyan?
Zyan!.. Zyan!!” aku tersentak dan terbangun, dan itu semua hanya mimpi, aku
lebih kaget lagi melihat Tama yang sudah berada di dalam kamarku.
“Kenapa
kamu bisa disini?!” aku melempar bantal ke arah nya. Tama menangkap bantal itu
dan membuang nya ke atas tempat tidur. Dan ia menampilkan senyum khas nya lagi.
“Ibu kamu mengizinkanku masuk”
“Astaga....”
aku menghela nafas dan mengusap wajahku. “Apa mau mu?” melihat Tama dengan
tatapan malas.
Tama
memberikanku senyum menyebalkannya dan menjatuhkan diri nya di sebelahku “Aku
bosan! Aku ingin melakukan sesuatu!”
“Ya sudah
lakukan sesuatu, kenapa ke rumahku” aku kembali menghempaskan diri di kasur,
menendang Tama menjauh dariku.
Tama menggerutu
“hm! Tidak seru!” ia berjalan-jalan mengelilingi kamarku , ia melihat lihat
meja belajarku.
“Jangan
sentuh apa pun—“
“Wah wah..
Kamu sangat menyukai Runa ya” Tama melihat-lihat catatanku yang berserakan di
atas meja, aku menggerutu kesal “iya lalu kenapa? Tidak suka?” aku membuang
wajahku karena malu.
Tama
merasa geli dengan tingkahku yang tidak biasa, ia pun tertawa “bahkan dia sudah
tidak ada pun kamu tetap menyukainya?,” jeda Tama terkekeh pelan melihat wajah
sahabatnya itu memerah “seorang Zyan bisa tersipu ya..”
Aku
menggerutu dan melemparinya dengan bantal “berisik!”
“kenapa
kamu tak mengungkapkan nya dulu?”
Keheningan
menyeruak di dalam ruangan, aku tak bisa mengatakan nya rasanya pun tak lagi bermakna,
karena Runa telah tiada.
Kematian
Runa membuatku terpukul, jika seandainya aku tepat waktu, Runa tak akan berjalan
sendirian dan membiarkan kondisi tubuhnya semakin melemah.
Hujan yang
ia cintai justru menjadi akhir, rasa dingin perlahan menyerang tubuhnya.
Sejak hari
itu, Runa jadi sering sakit dan jarang masuk sekolah, hingga ia pergi untuk
selamanya–meninggalkanku...
Petir
menyambar di luar jendela, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, kamar
terasa dingin dan langit semakin gelap. Aku menyalakan lampu kamar lalu
menghampiri Tama.
“Iya... aku
suka—aku menyukainya, tapi Tuhan mengambil nya terlalu cepat,” ucapanku terjeda
saat guntur beberapa kali. “aku.. Hanya tidak sempat mengatakannya, dia terlalu
cepat melangkah hingga aku tak lagi sanggup mengejar nya”
“Rasanya
aku ingin berdiri di tengah hujan mengenang semua tentang nya.. Runa selalu
suka hujan, sayang nya dia pergi di saat hujan turun....”
“Hujan
benar-benar membawaku terhanyut jauh dalam perasaan yang tak bisaku ungkap kan,”
“Aku
membenci hujan...”
Tama
menepuk pundakku dan menatap keluar jendela, rintik hujan membasahi kaca
jendela, hawa dingin menusuk kulit.
“Hujan itu
memang bisa menghanyutkan” Tama tersenyum kali ini bukan senyum menyebalkannya,
hanya senyum tulus yang jarang ia perlihatkan.
Aku
melihat keluar jendela, dan samar-samar seperti aku melihat bayangan Runa
berdiri di bawah sana tersenyum hangat di bawah dinginnya air hujan.
Aku ikut
tersenyum kecil melihatnya yang mulai memudar, Tama ikut menoleh ke luar
jendela dengan ekspresi bingung. “Lihat apa sih?” ia menoleh ke arahku.
“Tidak
ada... Aku hanya—“
“Aku...
Menyukai hujan”
Hujan
bukan hanya tetesan air yang jatuh ke
bumi, kini bagiku hujan itu kenangan lama yang tak akan pernah bisa aku lupakan,
memori masa lalu yang akan terus membekas di hatiku.
Helluw guys hehe.. Gimana nih cerita nya? Menarik kah? Biasa saja, atau kurang ngena nih di kalian? π€
Memang di beberapa orang itu baru akan menyadari perasaan nya disaat orang itu pergi atau bahkan tiada, hukum yang tak bisa kita lawan, maka dari itu kita harus meng-ikhlaskan yang tiada dan merelakan yang pergi, people come and go, right? I heard this soooo many times.
So... Thank you guys, buat pengunjung yang sudah membaca cerpen ku ini, aku masih pemula guys hehe..π , kalian berkomentar aja yaa beri aku saran, kritik, apapun itu, aku akan menerima nya.
Dan buat kalian yang mau baca cerpen keren lainnya dari teman-teman penulis Penerbit Ebiz bisa langsung ke akun Instagram nya yaw di bawah inii ππΌππΌ
https://www.instagram.com/penerbitgratis.ebiz?igsh=ajJtZ2YybTNsaHBp
Nanti kalian DM atau klik bio nya aja ya!
By the way, I love rain sooo much!, that's way I really enjoy when I wrote this story π§π¦✨
See you guys, love u all✨
-Alze⋆. π ˚
Tidak ada komentar:
Posting Komentar