Kamis, 18 Juni 2026

Cerpen: Hujan yang Tak Pernah Usai - Karya lolos Penerbit Ebiz

Hujan yang tak pernah usai

Hujan tiada henti sedari pagi, aku terjebak dalam masa lalu, di mana hari ini bertepatan dengan hari di mana kamu pergi.

Suasana perpustakaan yang tenang membawaku ke hari itu, lagi dan lagi. Aku tidak bisa melupakan nya.

Aku benci hujan.

“Berhenti melamun... Nanti kerasukan” aku tersadar dalam lamunanku, aku menoleh ke arah seseorang di hadapan ku dengan senyum khas nya.

“Aku tidak melamun, aku hanya berpikir” Tama menutup buku nya dan sepenuh nya melihat ke arahku. “Ayolah Zyan... Berhenti mengingat masa lalu, lebih baik kamu membantuku mencari artikel untuk tugas kuliah ini”

“Aku ingin segera pulang...” Tama meregangkan badannya. Sedari pagi kami sudah berada di perpustakaan ini, untuk mencari materi tugas akhir.

“Hmm... Aku mau beli minuman, kamu mau? Di warung depan” Tama beranjak dari kursi nya dan menunjuk warung kecil di depan perpustakaan

“Kopi saja.. Pakai gula” Tama mengacungkan jempol nya dan melangkah pergi.

Kini hanya ada aku, hujan dan juga setumpuk buku, bau perpustakaan yang khas penuh dengan buku tua. Aku dan Tama, kami sudah berteman sejak SMA, ia menjadi sahabat karibku sejak hari pertama.

Sore ini, rasa nya seperti di hari itu.

Kembali ke masa lalu...

“Zyan! Besok jangan lupa kerja kelompok! Kalau tidak datang aku tidak akan menulis nama mu di tugas itu! Mengerti?” gadis itu mendongak ke arahku, lucu saja melihat nya marah-marah padahal tinggi nya tidak seberapa.

Aku menghela nafas pasrah “Iya aku datang, merepotkan sekali...” aku mengambil tasku dan berjalan pergi meninggalkan gadis itu.

Dia itu sangat bersemangat sekali dalam hal apa pun, aku hampir tidak bisa mengimbangi nya karena aku bukan lah tipe orang yang punya banyak emosi. Aku tidak terlalu suka mengeluarkan emosi begitu saja.

“Hah... Hujan lagi” aku melihat ke atas, sepertinya langit sedang tidak bersahabat, yang ada hanya awan hitam menyelimuti langit.

“Hei! Kenapa? Terobos saja! Hujan bukan masalah kan?” Tama merangkul bahuku secara tiba-tiba membuatku sedikit tersentak. “Bisakah kamu tidak mengejutkanku?” aku melotot ke arah nya.

Tama tidak menggubrisku sama sekali, ia hanya menganggap itu bukan masalah besar.

“Ayolah lagi pula baju ini tidak akan di pakai lagi besok, jadi ayo kita lewati hujan ini!” Tama tanpa menunggu jawabanku dengan cepat mendorongku keluar dari zona kering dan kini aku basah kuyup.

“Tama?!” aku melotot ke arah nya kesal.

“Sekarang atau tidak selama nya, kawan. Nikmati masa SMA ini sebelum kamu menyesal tidak melakukannya”

Aku menggerutu, namun rasa kesalku memudar saat aku melihat gadis itu lagi, Runa.

“Kalian ini tidak di kelas, tidak di luar, heboh sekali” Runa berdiri di ambang lorong melihat aku dan Tama.

“Siapa yang kamu maksud heboh heh?” aku merasa tersinggung karena ini semua ulah Tama, jika tidak aku tidak akan sebasah ini.

“Seperti nya ada yang kesal..” Tama menggodaku, ia tertawa melihat ekspresi kesalku.

“Kalian cepat sini sebelum—” sebelum Runa menyelesaikan kalimat nya, petir menyambar dengan nyaring. Aku segera kembali ke lorong, dan Tama mengikutiku. “apa nya yang cepat pulang..” aku melotot ke arah Tama sebagai pelaku ini terjadi.

Tama hanya menyengir mendengar gerutuku. “Bagaimana kita akan pulang sekarang...?” Runa terlihat cemas, karena ini memang sudah hampir senja dan hujan tak kunjung berhenti.

“Zyan? Zyan!” aku tersadar sejenak dari pikiranku, dan melihat Tama dengan dua gelas kopi di tangan nya. “huh? Sejak kapan kamu sampai?”

“Kamu melamun kan apa sih? Serius sekali, aku sudah dari tadi memanggil mu” Tama menaruh dua gelas kopi itu di atas meja.

“Ah... Tidak, aku hanya teringat masa sekolah... Cuaca nya persis seperti saat itu.”

Tama meneguk kopi nya “Terjebak di sekolah hingga malam?” aku mengangguk melihat nya, dan aku ikut meminum kopiku.

“Ah... Saat itu, aku jadi ingin kembali ke masa itu, dan ya aku juga tidak akan lupa di saat aku menjadi nyamuk di antara kamu dan Runa” Tama terkekeh geli melihat wajahku yang berubah cemberut.

“Diamlah..” aku melempar penghapus ke arah nya.

“Hei?!” ia refleks menghindar dan kini melotot ke arahku. “Kalian berdua diamlah! Ini perpustakaan bukan tempat bermain” penjaga perpustakaan yang sedari tadi membaca buku pun kini memarahi kami.

Waktu berlalu, sudah hampir senja namun hujan tak kunjung berhenti, sekarang memang musim hujan, bahkan di beberapa daerah sudah banjir karena hujan  terus menerus.

“Hujan itu... Menyimpan kenangan ya?” celetukanku membuat Tama yang sedari tadi menjatuhkan wajah nya di meja kini melihatku. “Kenangan? Hujan? Kenapa?”

“Hujan ini... Aku merindukan nya”

“Runa?” Tama menegakkan kembali tubuh nya yang lelah. “ah tidak lupakan saja, aku hanya asal bicara” Tama mengerutkan dahi nya tidak puas dengan ucapanku.

“Bicara jangan setengah-setengah, hobi kamu menggantung ya? Suka sekali bercerita tapi hanya setengah, tidak seru” Tama kembali menjatuhkan kepala nya di atas meja.

Aku menghela nafas “Ayo pulang..” aku beranjak dari meja, berdiri menunggu Tama. “Masih hujan”

“Lewati saja” aku berjalan lebih dulu menuju pintu keluar perpustakaan.

“Kamu yakin?” Tama mendongak melihatku yang sudah pergi, dan segera ia menyusul.

“Bukankah kamu... Membenci hujan?”

“Ku rasa sesekali tidak ada salah nya” aku tersenyum, mengikuti senyum khas Tama.

Kami sampai di rumah masing-masing, aku menaruh semua barangku di atas meja belajar, dan menjatuhkan diri di atas kasur.

Sejak kehilangan.. Rasanya tidak lagi sama, aku tidak mengerti apa yang aku rasakan saat ini, aku ingin marah, berteriak, menangis, lalu melupakan segala nya.

Aku benci diriku.

Setelah selesai mandi aku duduk di meja belajar, melihat catatan-catatan lama, aku tidak sadar jika aku sering menulis. Sepertinya aku meluapkan semua nya dalam bentuk tulisan. Aku melihat salah satu catatan dan membaca nya.

12 Desember 2023

Lagi-lagi hari ini hujan, rasa nya retakan itu terbuka kembali. Retakan yang tak bisaku obati. Rasa pedih dan kehilangan.

Jiwa yang engkau ambil tak bisa lagi ku gapai...

Aku ingat catatan ini, di mana saat itu hari terburuk bagiku, badai, angin kencang, dan peristiwa yang tidak akan pernah aku lupakan.

Aku menghempaskan diriku ke atas tempat tidur, menatap langit-langit dan memejamkan mata.

“Zyan kamu suka hujan tidak?” Runa mendongak ke arahku, karena sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, hampir setengah langit sudah ditutupi oleh awan hitam.

“Asal tidak badai” aku melihat ke atas lalu menoleh ke Runa. “kenapa?”

Runa menggeleng kan kepala nya “Hanya bertanya, aku suka hujan, rasanya tenang dan damai. Aku sedari dulu ingin bermain di bawah hujan di lapangan yang luas sekali! Tapi Ibu selalu melarangku... Katanya nanti sakit” raut wajah Runa berubah cemberut.

Aku tertawa kecil mendengar keluhannya “Ada baik nya kamu mendengarkan Ibu mu, bisa bahaya kalau kamu bermain hujan nanti bisa hanyut”

“Kok bisa hanyut?”

“Soalnya kamu kecil, nanti mudah terbawa arus” aku tertawa melihat ekspresi cemberut nya makin jelas.

“Sepertinya seru sekali kalian berdua” goda Tama yang baru saja sampai. “Dari mana saja kamu!? Ini sudah telat!” Runa langsung mengomel begitu melihat Tama.

“Hei... Tenang! Kenapa tiba-tiba kesal? Kamu di apa in sama Zyan?” Tama mundur agar tidak terkena pukulan Runa. “Zyan bilang aku akan hanyut terbawa arus jika bermain hujan”

“Huh? Kenapa bisa begitu?”

“Karena Zyan bilang aku pendek” Tama tertawa lepas saat sampai ke bagian itu, dan Tama dengan cepat menerima pukulan dari Runa.

Aku hanya melihat kedua orang itu, Runa menghajar Tama, dan Tama berusaha melindungi diri nya dari pukulan itu. Aku tersenyum geli melihat nya, namun dengan cepat aku menoleh untuk menyembunyikan ekspresiku.

“Zyan? Zyan!.. Zyan!!” aku tersentak dan terbangun, dan itu semua hanya mimpi, aku lebih kaget lagi melihat Tama yang sudah berada di dalam kamarku.

“Kenapa kamu bisa disini?!” aku melempar bantal ke arah nya. Tama menangkap bantal itu dan membuang nya ke atas tempat tidur. Dan ia menampilkan senyum khas nya lagi. “Ibu kamu mengizinkanku masuk”

“Astaga....” aku menghela nafas dan mengusap wajahku. “Apa mau mu?” melihat Tama dengan tatapan malas.

Tama memberikanku senyum menyebalkannya dan menjatuhkan diri nya di sebelahku “Aku bosan! Aku ingin melakukan sesuatu!”

“Ya sudah lakukan sesuatu, kenapa ke rumahku” aku kembali menghempaskan diri di kasur, menendang Tama menjauh dariku.

Tama menggerutu “hm! Tidak seru!” ia berjalan-jalan mengelilingi kamarku , ia melihat lihat meja belajarku.

“Jangan sentuh apa pun—“

“Wah wah.. Kamu sangat menyukai Runa ya” Tama melihat-lihat catatanku yang berserakan di atas meja, aku menggerutu kesal “iya lalu kenapa? Tidak suka?” aku membuang wajahku karena malu.

Tama merasa geli dengan tingkahku yang tidak biasa, ia pun tertawa “bahkan dia sudah tidak ada pun kamu tetap menyukainya?,” jeda Tama terkekeh pelan melihat wajah sahabatnya itu memerah “seorang Zyan bisa tersipu ya..”

Aku menggerutu dan melemparinya dengan bantal “berisik!”

“kenapa kamu tak mengungkapkan nya dulu?”

Keheningan menyeruak di dalam ruangan, aku tak bisa mengatakan nya rasanya pun tak lagi bermakna, karena Runa telah tiada.

Kematian Runa membuatku terpukul, jika seandainya aku tepat waktu, Runa tak akan berjalan sendirian dan membiarkan kondisi tubuhnya semakin melemah.

Hujan yang ia cintai justru menjadi akhir, rasa dingin perlahan menyerang tubuhnya.

Sejak hari itu, Runa jadi sering sakit dan jarang masuk sekolah, hingga ia pergi untuk selamanya–meninggalkanku...

Petir menyambar di luar jendela, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, kamar terasa dingin dan langit semakin gelap. Aku menyalakan lampu kamar lalu menghampiri Tama.

“Iya... aku suka—aku menyukainya, tapi Tuhan mengambil nya terlalu cepat,” ucapanku terjeda saat guntur beberapa kali. “aku.. Hanya tidak sempat mengatakannya, dia terlalu cepat melangkah hingga aku tak lagi sanggup mengejar nya”

“Rasanya aku ingin berdiri di tengah hujan mengenang semua tentang nya.. Runa selalu suka hujan, sayang nya dia pergi di saat hujan turun....”

“Hujan benar-benar membawaku terhanyut jauh dalam perasaan yang tak bisaku ungkap kan,”

“Aku membenci hujan...”

Tama menepuk pundakku dan menatap keluar jendela, rintik hujan membasahi kaca jendela, hawa dingin menusuk kulit.

“Hujan itu memang bisa menghanyutkan” Tama tersenyum kali ini bukan senyum menyebalkannya, hanya senyum tulus yang jarang ia perlihatkan.

Aku melihat keluar jendela, dan samar-samar seperti aku melihat bayangan Runa berdiri di bawah sana tersenyum hangat di bawah dinginnya air hujan.

Aku ikut tersenyum kecil melihatnya yang mulai memudar, Tama ikut menoleh ke luar jendela dengan ekspresi bingung. “Lihat apa sih?” ia menoleh ke arahku.

“Tidak ada... Aku hanya—“

“Aku... Menyukai hujan”

Hujan bukan hanya tetesan air  yang jatuh ke bumi, kini bagiku hujan itu kenangan lama yang tak akan pernah bisa aku lupakan, memori masa lalu yang akan terus membekas di hatiku.



Helluw guys hehe.. Gimana nih cerita nya? Menarik kah? Biasa saja, atau kurang ngena nih di kalian? πŸ€” 

Memang di beberapa orang itu baru akan menyadari perasaan nya disaat orang itu pergi atau bahkan tiada, hukum yang tak bisa kita lawan, maka dari itu kita harus meng-ikhlaskan yang tiada dan merelakan yang pergi, people come and go, right? I heard this soooo many times. 

So... Thank you guys, buat pengunjung yang sudah membaca cerpen ku ini, aku masih pemula guys hehe..πŸ˜…, kalian berkomentar aja yaa beri aku saran, kritik, apapun itu, aku akan menerima nya. 

Dan buat kalian yang mau baca cerpen keren lainnya dari teman-teman penulis Penerbit Ebiz bisa langsung ke akun Instagram nya yaw di bawah inii πŸ‘‡πŸΌπŸ‘‡πŸΌ

https://www.instagram.com/penerbitgratis.ebiz?igsh=ajJtZ2YybTNsaHBp

Nanti kalian DM atau klik bio nya aja ya! 

By the way, I love rain sooo much!, that's way I really enjoy when I wrote this story πŸŒ§πŸ¦‹✨

See you guys, love u all✨

-Alze⋆. π™š ˚

Tidak ada komentar:

Posting Komentar